Penulis:
Vijay Syahputra
(Seketaris Bidang Pendidikan DDII Lampung)
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan yang tidak hanya terucap di lisan, tetapi terwujud dalam sikap, perilaku, dan kesungguhan kita dalam menjalankan perintah Allah ﷻ serta menjauhi larangan-Nya.
Pada kesempatan khutbah kali ini, khatib mengajak diri khatib sendiri dan jamaah sekalian untuk merenungkan satu perkara yang sangat penting dalam kehidupan seorang mukmin, yaitu muhasabah introspeksi dan evaluasi diri.
Muhasabah adalah kesadaran untuk menilai kembali hidup yang kita jalani: bagaimana hubungan kita dengan Allah ﷻ, bagaimana ibadah kita, bagaimana akhlak kita kepada sesama, serta bagaimana amanah yang Allah ﷻ titipkan telah kita jalankan selama ini.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ḥasyr: 18)
Ayat ini dengan sangat tegas memerintahkan kita untuk menoleh ke dalam diri, menilai apa yang telah kita persiapkan untuk kehidupan akhirat. Muhasabah bukanlah mencela diri secara berlebihan, tetapi menyadari kekurangan agar kita mampu memperbaikinya.
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah, sering kali manusia terlalu sibuk menghitung kesalahan orang lain, menilai kegagalan orang lain, hingga lupa mengevaluasi dirinya sendiri. Lisan kita mudah mengkritik, tetapi hati kita lalai untuk bercermin. Padahal, orang yang paling beruntung adalah mereka yang mampu melihat kekurangan dirinya sebelum melihat kekurangan orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
Artinya: “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menghisab dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (H.R. At-Tirmidzi no.2459)
Hadis ini mengajarkan bahawa kecerdasan sejati bukan diukur dari kepintaran akademik atau jabatan dunia, melainkan dari kemampuan seseorang mengendalikan dirinya dan mempersiapkan bekal akhirat.
Muhasabah menuntut kejujuran terhadap diri sendiri. Jujur dalam mengakui lalai shalat, jujur dalam mengakui hati yang sering iri dan dengki, jujur dalam mengakui amanah yang belum ditunaikan dengan sempurna. Dari kejujuran itulah lahir perbaikan.
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah, muhasabah tidak dapat dipisahkan dari kesadaran tentang kematian dan hisab. Setiap yang bernyawa pasti akan mati, dan setiap amal akan dimintai pertanggungjawaban. Allah ﷻ berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamatlah kamu akan diberi balasan dengan sempurna.” (QS. Āli ‘Imrān: 185)
Kesadaran akan kematian seharusnya mendorong kita untuk tidak menunda taubat, tidak menunda perbaikan diri, dan tidak menunda amal kebaikan. Sebab kita tidak pernah tahu kapan Allah ﷻ memanggil kita kembali.
Umar bin al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu ‘anhu pernah berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
Artinya: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.” (Imam Ahmad dalam Az-Zuhd)
Nasihat sahabat ini menjadi prinsip penting dalam kehidupan seorang mukmin. Muhasabah adalah bentuk kesiapan kita sebelum berhadapan dengan hisab Allah ﷻ yang sesungguhnya di akhirat kelak.
Dalam kehidupan modern hari ini, muhasabah semakin penting. Teknologi yang canggih sering membuat kita lalai, sibuk dengan layar, sibuk mengejar eksistensi, hingga lupa memperhatikan kebersihan hati. Amal dilakukan untuk dipamerkan, ibadah dinilai dari penilaian manusia, bukan dari keikhlasan kepada Allah ﷻ. Padahal, Allah ﷻ menilai amal bukan dari besar dan kecilnya, tetapi dari keikhlasan dan kesesuaiannya dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Muhasabah membantu kita meluruskan niat, membersihkan hati, dan mengembalikan orientasi hidup hanya kepada Allah ﷻ.
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah, muhasabah juga harus mencakup hubungan kita dengan sesama manusia. Sudahkah kita menjaga lisan dari menyakiti? Sudahkah kita berlaku adil dalam pekerjaan dan amanah? Sudahkah kita menjadi sumber kebaikan bagi keluarga dan lingkungan?
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Artinya: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (H.R. Bukhari no.10 dan Muslim no.40)
Hadis ini mengingatkan bahwa kualitas keislaman kita tercermin dari dampak keberadaan kita kepada orang lain. Muhasabah akan menuntun kita untuk memperbaiki akhlak dan menahan diri dari menyakiti sesama.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah ﷻ, mari kita jadikan muhasabah sebagai kebiasaan, bukan hanya di saat tertentu. Muhasabah setiap hari sebelum tidur, muhasabah setiap pekan, bahkan muhasabah sepanjang hidup. Dengan muhasabah, hati menjadi hidup, iman terjaga, dan kehidupan memiliki arah yang jelas menuju ridha Allah ﷻ.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba Nya yang senantiasa sadar diri, rendah hati, dan selalu berusaha memperbaiki keadaan sebelum datang saat kita tidak lagi diberi kesempatan.
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم


















