Penulis:
Ustadz Muchlis Solihin
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاقْتَفَى
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَبَعْدُ،
مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ
Saudara-saudaraku kaum muslimin sekalian. Pada kesempatan singkat, dalam khutbah Jum’at ini, mari sejenak kita telaah tuntunan Allah ﷻ kepada hambanya agar mencapai kehidupan yang baik. Yang kita istilahkan dengan Kemuliaan Sehingga tema khutbah Jum’at hari ini adalah “meraih kemuliaan”
Kata-kata mulia sering disandingkan dengan kata “Al-Karim” (dalam bahasa Arab). Dalam pembahasan kita ini, dimaksudkan dengan kata “mulia” adalah posisi terhormat, tinggi atau terpuji dan jauh dari kerendahan serta kehinaan. Karena setiap muslim berkeyakinan hidup didunia ini akan berlanjut pada kehidupan Akhirat, maka kemuliaan seseorang hanyalah jika meliputi kedua kehidupan tersebut.
Bahasan kita ini kiranya dapat meluruskan, sebagian saudara-saudara kita yang sengaja atau tanpa sengaja telah membatasi istilah mulia dan sukses ini dengan standar materi atau didunia ini saja. Allah ﷻ telah nensinyalir kelompok ini dengan firmannya;
فَإِذَا قَضَيۡتُم مَّنَٰسِكَكُمۡ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَذِكۡرِكُمۡ ءَابَآءَكُمۡ أَوۡ أَشَدَّ ذِكۡرٗاۗ فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖ ٢٠٠
Artinya: “…. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 200)
Landasan atau ukuran kemuliaan kita adalah Islam sebagai tuntunan dari yang maha Tahu. Dan jalan kemuliaan yang yang ditunjukkan Allah ﷻ pada hambanya adalah mentaati Allah ﷻ, baik dalam ibadah ritual maupun dalam bermuamalah.
Dalam ayat yang kita bacakan sebagai pembuka khutbah ini Allah ﷻ berfirman :
ضُرِبَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيۡنَ مَا ثُقِفُوٓاْ إِلَّا بِحَبۡلٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبۡلٖ مِّنَ ٱلنَّاسِ وَبَآءُو بِغَضَبٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَضُرِبَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَسۡكَنَةُۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ يَكۡفُرُونَ بَِٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَيَقۡتُلُونَ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقّٖۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ ١١٢
Artinya: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS. Al-Imran: 112)
Allah ﷻ juga berfirman;
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan (kesukaesan).” (QS. Al-Ma’idah: 35)
Firman Allah ﷻ:
إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٥١ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَخۡشَ ٱللَّهَ وَيَتَّقۡهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ٥٢
Artinya: “Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur: 51-52)
Seorang mukmin yang baik, selain taat kepada Alloh dengan melaksanaka titah (aturan) Nya, juga beraklaq baik dalam berinteraksi dengan sesama. Bahkan nabi S. A. W. menjadikan akhlak dan bermanfaatnya seorang bagi sesama sebagai kriteria orang pilihan, sebagaimana sabda beliau:
إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا
Artinga: “Sesungguhnya orang pilihan (yang terbaik) dari kalian adalah yang terbaik akhlaqnya.” (H.R. Bukhari no.3559 dan Muslim no.2331)
Saudara-saudaraku kaum muslimin sekalian, berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Hadist di atas dapatlah kita yakini bahwa kemuliaan bagi seorang muslim adalah kemuliaan dunia dan akhirat. Seorang baru sukses mencapai kemuliaan jika ia menjaga ketaatan pada Allah ﷻ dan ber-ahklaq mulia.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ


















