Penulis:
Aliyudin, S.H.,M.H.
(Wakil Seketaris DDII lampung)
إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى:
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Jamaah sidang Jum’at rahiumahumullah
Marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah ﷻ atas segala nikmat yang telah Allah ﷻ berikan kepada kita semua. Shohalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ dan semoga kelak kita mendapatkan syafaatnya…aamiin.
Tak lupa khatib berwasiat pada diri khatib dan kepada jamaah sekalian marilah kita selalu berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan terus berusaha menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi semua laranganNya dengan cara yang diajarkanNya. Semoga Allah ﷻ selalu memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita sehingga selau dalam keimanan dan ketakwaan kepadaNya.
Jamaah sidang Jum’at rahiumahumullah
Bulan-bulan ini kita sedang berada dalam sebuah momentum bersejarah peringatan hari kemerdekaan Indonesia, lepasnya bangsa kita dari segala bentuk penjajahan. Ada 2 hal yang perlu kita pahami tentang kemerdekaan, yaitu:
- Meperjuangkan kemerdekaan dengan mempertaruhkan harta jiwa dan raga merupakan bagian dari pada jihad dalam islam:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah ﷻ dengan harta, benda dan diri mereka, lebih tinggi derajatnya di sisi Allah ﷻ; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At-Taubah : 20)
Sejatinya, jihad di masa kini menghadapi tantangan yang lebih besar, seperti kemiskinan, kebodohan, dan penindasan. Jihad di bidang-bidang ini adalah cara untuk memperbaiki kondisi umat Islam dan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
Kalau kita kembali pada Sejarah nabi Muahamad ﷺ pada fase dakwah pertama nabi, bukan hanya semata memurnikan tauhid umat manusia atau membebaskan manusia dari segala penghambaan kepada mahluk, tetapi juga membebaskan manusia dari perbudakan social, sehingga Rasulullah ﷺ juga menyerukan untuk terbebas dari segala bentuk penindasan, diskriminasi, eksploitasi, dan pembodohan yang dilembagakan. Begitulah sejatinya fungsi agama menjadi pembebas (teologi pembebasan) dari segala ketertundukan pada selain Tuhan. Makanya Nabi berjuang keras untuk merubah tatanan masyarakat jahiliyah yang sudah mengakar seperti perbudakan. Allah ﷻ sangat menekankan untuk senantiasa memerdekakan budak dan menjauhi ekspolitasi terhadap orang miskin. Sebagai contoh, karena orang miskin di jadikan objek dalam penindasan system utang piutang ribawi, maka kemudian Allah ﷻ mengharamkan riba.
فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ١١ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡعَقَبَةُ ١٢ فَكُّ رَقَبَةٍ ١٣ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ١٤ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ١٥ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ١٦ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ١٧ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ ١٨
Artinya: “Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan. atau memberi makan pada hari kelaparan. (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat. atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.” (QS Al-Balad: 11-18).
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
Artinya: “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275)
Nabi Muhammad ﷺ juga mendobrak tatanan jahiliyah yang memandang wanita dengan pandangan sebelah mata, terkesan dikesampingkan dari kehidupan social dan diperlakukan buruk bahkan hingga melakukan penguburan hidup-hidup bayi perempuan, serta praktik pernikahan yang merendahkan kaum wanita. Islam datang membawa perubahan besar dalam cara memperlakukan kaum wanita, sehingga wanita mendapat kedudukan mulia di semua aspek kehidupan. Islam benar-benar menentang praktik kejahilan terhadap kaum wanita, seperti disampaikan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl 58-59, yang artinya: “Dan apabila salah seorang dari mereka diberi kabar gembira dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (marah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah, ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan berita buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah ! Alangkah buruk apa yang mereka tetapkan itu.”
Aspek lain juga yang tak kalah penting yang ditegakkan Nabi ﷺ adalah penegakkan keadilan, yang dapat kita ketahui berdasarkan penuturan ibunda ‘Aisyah radhiyAllahu ‘anha, yang menceritakan:
أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ، فَقَالُوا: مَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالُوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ، حِبُّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ؟» ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ، فَقَالَ: «أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا»
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang Quraisy mengkhawatirkan keadaan (nasib) wanita dari bani Makhzumiyyah yang (kedapatan) mencuri. Mereka berkata, ‘Siapa yang bisa berbicara dengan Nabi Muhammad ﷺ ?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak ada yang berani kecuali Usamah bin Zaid yang dicintai oleh Nabi Muhammad ﷺ.. Maka Usamah pun berkata (melobi) Nabi Muhammad ﷺ (untuk meringankan atau membebaskan si wanita tersebut dari hukuman potong tangan). Nabi Muhammad ﷺ kemudian bersabda, ‘Apakah Engkau memberi syafa’at (pertolongan) berkaitan dengan hukum Allah?” Nabi Muhammad ﷺ pun berdiri dan berkhutbah, ‘Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum). Namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.” (H.R. Bukhari no. 6788 dan Muslim no. 1688)
- Cara mensyukuri kemerdekaan,
Nikmat kemerdekaan ini perlu untuk kita syukuri. Sebab dengan syukur itulah, Allah ﷻ akan mendatangkan keberkahan dan menambah nikmat-Nya.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: ”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Maasyiral mu’minin rahimahumullah,
Lantas bagaimana cara kita mensyukuri kemerdekaan dan dan kemerdekaan dengan hal hal yang mendatangkan keberkahan dari Allah?.
Pertama, kita perlu menyadari bahwa kemerdekaan ini adalah nikmat dari Allah ﷻ. Bahkan termasuk nikmat yang besar. Bagaimana tidak, dalam kondisi terjajah, masyarakat muslim akan sulit untuk melaksanakan ibadah kepada Allah ﷻ. Bahkan merasa tidak aman dalam menjalani kehidupan. Apalagi kehidupan sesuai dengan tuntunan Islam.
Para pejuang kemerdekaan dan pendiri bangsa ini menyadari sepenuhnya bahwa kemerdekaan ini adalah nikmat dan rahmat dari Allah ﷻ. Pengakuan ini tercantum dalam pembukaan UUD 1945: “Atas berkat rahmat Allah ﷻ Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Para pejuang kemerdekaan dan pendiri bangsa ini menyadari sepenuhnya, memang mereka berjuang bahkan mengorbankan nyawa, tetapi yang kuasa menganugerahkan kemerdekaan adalah Allah ﷻ. Menyadari bahwa kemerdekaan adalah nikmat dari Allah ﷻ, memudahkan kita untuk mensyukurinya. Sebagaimana Nabi Sulaiman memandang kekuasaan yang Allah ﷻ berikan kepadanya.
هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
Artinya: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An Naml: 40)
Kedua, dengan menjadikan bangsa yang kita cintai ini menjadi bangsa yang senantiasa diberkahi oleh Allah ﷻ. Lalu bagaiamana kita mencari sumber keberkahan?.
Ternyata sumber keberkahan itu ada di dalam rumah-rumah kita sendiri karena Al-Qur’an sendiri merupakan berkah bagi manusia sebagaimana firman-Nya:
كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ
Artinya: “Ini (Al-Quran) adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran.” (QS. Shaad: 29).
Jamaah sidang Jum’at Rahimahumullah
Al-Qur’an merupakan keberkahan pertama yang diturunkan oleh Allah ﷻ kepada umat manusia, didalanya terkandung petunjuk (Hudalinnas), dan Allah ﷻ menjelaskan tentang jalan ketakwaan (fujurraha wa takwaha). Di dalam Al Qur’an terdapat kebaikan dan ilmu yang banyak, terdapat petunjuk dari kesesatan, terdapat obat/syifa dari penyakit, cahaya sebagai penerang di tengah kegelapan, dan terdapat hukum yang dibutuhkan oleh manusia.
Sementara berkah atau barakah menyangkut masyarakat atau kaum bermakna sebagai kebaikan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi seluruh kaum dalam suatu wilayah.
Hal ini tercantum dalam ayat Al Quran:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS:Al-A’raf t: 96).
Dari kedua ayat tersebut dapat kita pahami bahwa Al Quran adalah sumber keberkahan bagi orang-orang yang beriman dan keberkahan itu sendiri datangnya dari Allah ﷻ. Syarat untuk datangnya berkah dari Allah ﷻ adalah dengan beriman dan bertakwa. Syarat ini berlaku baik secara individu maupun bermasyarakat (jama’i).
أَلَمۡ يَأۡتِهِمۡ نَبَأُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَقَوۡمِ إِبۡرَٰهِيمَ وَأَصۡحَٰبِ مَدۡيَنَ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَٰتِۚ أَتَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِۖ فَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ,
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


















