Berikut adalah revisi narasi berita yang telah dilengkapi dengan sambutan pembukaan dari KH. Aidi Afrian, S.Sos.I.:
BANDAR LAMPUNG — Pimpinan Masjid Munzalan Mubarakan Indonesia, KH. Muhammad Nur Hassan atau yang akrab disapa Tok Ya, mengadakan kunjungan dan safari dakwah di Kota Bandar Lampung pada tanggal 31 Oktober 2026. Kehadiran beliau disambut hangat dan penuh antusias oleh para pengurus masjid, takmir, serta tokoh masyarakat dalam acara Pelatihan Manajemen Masjid bertemakan “Masjid Beraset Milyaran”, yang diselenggarakan di Aula Dewan Dakwah, Bandar Lampung.

Sambutan Pembukaan: Potensi dan Tantangan Masjid di Bandar Lampung
Acara diawali dengan sambutan pembukaan yang disampaikan oleh KH. Aidi Afrian, S.Sos.I. Dalam arahannya, beliau menyoroti pesatnya pertumbuhan fisik masjid di Kota Bandar Lampung dari waktu ke waktu. Namun, beliau memaparkan bahwa realitas di lapangan menunjukkan mayoritas operasional dan pendanaan masjid di Bandar Lampung masih sangat bergantung pada pola tradisional, seperti mengandalkan kencleng atau kotak infaq yang dijalankan saat salat Jumat dan majelis taklim.
KH. Aidi Afrian menekankan bahwa materi pengelolaan masjid modern yang dibawakan oleh Tok Ya akan menjadi angina segar dan sangat bermanfaat. Pelatihan ini diharapkan membuka wawasan para pengurus masjid agar mampu mengubah pola pikir manajemen, sehingga masjid tidak lagi sekadar bertahan dari kotak infaq berjalan, melainkan mampu mandiri secara finansial, memakmurkan jamaah, hingga mengelola aset bernilai miliaran rupiah.
Pengarahan Utama & Rangkuman Materi: Konsep Masjid Enterprise
Memasuki sesi inti, KH. Muhammad Nur Hassan (Tok Ya) menegaskan bahwa kebangkitan umat Islam harus dimulai dari masjid. Dengan mengutip data potensi nasional, beliau mengingatkan bahwa Indonesia memiliki hampir satu juta masjid dan musala. Potensi ini harus dioptimalkan melalui pergeseran paradigma menuju Masjid Enterprise yang multifungsi, mandiri, dan berdampak luas.
Berdasarkan pemaparan materi dari dokumen resmi Masjid Munzalan Mubarakan, berikut adalah poin-poin utama yang dibagikan dalam pelatihan tersebut:
- Visi dan Filosofi (
Masjid Boleh Kecil, Tapi Visinya Harus Besar): Berpatokan pada Surah Al-Mu’minun ayat 29 (Munzalan Mubarakan yang berarti tempat yang diberkahi), masjid membuktikan bahwa keterbatasan ukuran fisik di tingkat lokal tidak menghalangi lahirnya peradaban dan manfaat besar bagi masyarakat luas. - Empat Pilar Utama Kemasjidan:
- Baitudda’wah: Pusat kemasjidan, pembinaan kekeluargaan, dan penguatan ketaatan jamaah.
- Baitul Qur’an: Pusat pendidikan, pengajaran, dan kaderisasi generasi Qur’ani melalui keteladanan (seperti Pesantren Anak Sholeh Awlaadul Yamin dan Munzalan Learning Centre).
- Baitul Maal (Baitulmaal Munzalan Indonesia): Lembaga pengelola ZISWAF yang menanamkan nilai kepedulian, menaungi gerakan nasional seperti Infaq Beras (IB) dan Pasukan Amal Sholeh (PASKAS).
- Baitulmuamalah (Munzalan Tijarah Center): Pilar kemandirian ekonomi umat melalui unit usaha produktif seperti Munzalan Store, Bahagia Barbershop, Roti Bahagia, hingga Salsabila Water.
- Pelayanan “Masjid Bestari & Romantis”: Masjid dirancang agar ramah dan terbuka bagi semua kalangan—anak-anak, pemuda, musafir, tetangga, hingga golongan mualaf melalui Muallaf Corner. Program 3M (Masjid Makan Makan / Dapur Masjid) serta penyediaan fasilitas prasmanan rutin menjadi wujud nyata kepedulian masjid terhadap kesejahteraan pangan jamaah.
- Tata Kelola Aset & Akuntabilitas: Melalui konsolidasi wakaf yang profesional, transparan, dan terdigitalisasi, gerakan ini berhasil mengelola puluhan titik masjid, belasan kantor perwakilan daerah, hingga ratusan aset pendukung (bangunan, tanah, dan armada operasional) secara produktif untuk kepentingan dakwah.
Pelatihan di Aula Dewan Dakwah Bandar Lampung ini diakhiri dengan komitmen bersama dari para pengurus masjid setempat untuk mulai mengulur visi baru: bertransformasi dari sekadar penerima donasi kotak infaq menjadi pusat solusi pendidikan, sosial, dan ekonomi yang berdaya saing tinggi.

















