Penulis:
Vijay Syahputra
(Seketaris Bidang Pendidikan DDII Lampung)
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan adalah jalan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat, dan menjadi sebab turunnya rahmat serta kasih sayang Allah ﷻ kepada hamba-hamba-Nya.
Pada kesempatan khutbah ini, khatib mengajak jamaah sekalian untuk merenungkan tema yang sangat menenangkan hati, yaitu Allah ﷻ mencintai hamba-Nya. Sebuah tema yang menghadirkan harapan, menumbuhkan optimisme, serta menguatkan iman, terutama di tengah kehidupan yang penuh ujian dan kesulitan.
Sering kali manusia merasa jauh dari Allah ﷻ, merasa hidupnya penuh kekurangan, cobaan, dan kesedihan, lalu mengira bahwa Allah ﷻ tidak mencintainya. Padahal, cinta Allah ﷻ tidak selalu tampak dalam bentuk kesenangan, tetapi sering kali hadir dalam bentuk ujian, peringatan, dan hidayah agar seorang hamba kembali kepada jalan-Nya.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Ayat ini menunjukkan bahwa cinta Allah ﷻ bukanlah sesuatu yang mustahil diraih. Bahkan seorang hamba yang penuh dosa pun tetap dicintai Allah ﷻ selama ia mau kembali, menyesal, dan memperbaiki diri.
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah,
Cinta Allah ﷻ kepada hamba-Nya bukan cinta yang terbatas seperti cinta manusia. Cinta Allah adalah cinta yang melahirkan ampunan, pertolongan, perlindungan, dan keberkahan. Ketika Allah ﷻ mencintai seorang hamba, maka hidupnya akan diarahkan menuju kebaikan, meskipun terkadang melewati jalan yang berat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ
Artinya: “Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril, lalu berkata: ‘Sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah dia.” (H.R. Bukhari no.3209 dan Muslim no.2637)
Hadist ini menggambarkan betapa mulianya kedudukan seorang hamba yang dicintai Allah ﷻ. Cintanya tidak hanya di sisi Allah, tetapi juga ditebarkan ke langit dan bumi. Namun perlu disadari bahwa cinta Allah ﷻ bukan diperoleh dengan angan-angan, melainkan dengan iman, ketaatan, dan kesungguhan dalam beramal. Allah ﷻ berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
Artinya: “Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu.” (QS. Ali-Imrān: 31)
Ayat ini menegaskan bahwa mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ adalah jalan menuju cinta Allah ﷻ.
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah,
Banyak manusia berlomba mencari cinta manusia, rela berkorban demi pujian dan pengakuan, namun lupa mencari cinta Allah ﷻ. Padahal cinta manusia tidak menjamin kebahagiaan, sedangkan cinta Allah menjamin ketenteraman hati dan keselamatan akhirat.
Allah ﷻ mencintai hamba-hamba-Nya dengan berbagai bentuk. Allah ﷻ mencintai orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang sabar, orang-orang yang berbuat adil, dan orang-orang yang bertawakal. Semua itu ditegaskan dalam Al-Qur’an.
Allah ﷻ Subḥānahū wa Ta‘ālā berfirman:
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
Artinya: “Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali-Imran: 146)
Dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa”. (QS. At-Taubah: 4)
Dan juga:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: ”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa cinta Allah ﷻ dapat diraih oleh siapa saja, tanpa melihat status sosial, kekayaan, atau latar belakang. Yang Allah ﷻ nilai adalah hati, ketulusan, dan amal perbuatan.
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah,
Perlu kita pahami bahwa ujian hidup bukan tanda kebencian Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ
Artinya: “Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka.” (H.R. At-Tirmidzi no.2396)
Ujian adalah sarana peningkatan derajat dan penghapus dosa. Lewat ujian, Allah ﷻ mendidik hamba-Nya agar semakin dekat dan bergantung kepada-Nya.
Orang yang dicintai Allah ﷻ akan mudah kembali kepada kebaikan, mudah tersentuh oleh nasihat, dan cepat bertaubat ketika berbuat salah. Hatinya hidup, lisannya basah dengan zikir, dan langkahnya dijaga dari perbuatan maksiat.
Ibn al-Qayyim رحمه الله berkata bahwa “tanda cinta Allah ﷻ kepada seorang hamba adalah ketika Allah ﷻ menyibukkannya dengan ketaatan dan menjauhkannya dari perbuatan sia-sia”.
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah,
Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: sudahkah kita berusaha menjadi hamba yang dicintai Allah ﷻ? Sudahkah kita menjaga shalat, jujur dalam muamalah, lembut dalam akhlak, sabar dalam ujian, serta ikhlas dalam beramal?
Dunia ini hanyalah persinggahan, dan cinta Allah ﷻ adalah bekal terbesar menuju akhirat. Tidak ada kebahagiaan yang lebih luhur daripada mengetahui bahwa Allah ﷻ ridha dan mencintai kita sebagai hamba-Nya.
Semoga hati kita senantiasa terpaut kepada Allah ﷻ, amal kita diterima di sisi-Nya, dan hidup kita diarahkan dalam lindungan cinta dan rahmat Allah ﷻ.
أق حولُ قَ حو حلِ ههذَا، وَأ حست حغفّرُ ا هلِٰلَ حلِ وَلكُحم وَلسَائرّ الحمُ حسلمّحيَْ مّ حن كُلّٰ ذنحبٍ، فا حست حغفّرحوهُ ، إنهُ هُوَ الحغَفُحورُ .ُالرحّحيم


















