BANDAR LAMPUNG — Tokoh senior Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang juga menjabat sebagai Anggota DPD RI dan Ketua Badan Akuntabilitas Publik (BAP) DPD RI, Dr. Ir. KH. Abdul Hakim, M.M., memaparkan materi bersejarah mengenai rekam jejak dan kesinambungan nilai perjuangan Masyumi, Mohammad Natsir, hingga lahirnya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).
Dalam pemaparannya, Dr. KH. Abdul Hakim menekankan bahwa Masyumi, Mohammad Natsir, dan DDII merupakan bagian tak terpisahkan dari satu rantai sejarah perjuangan Islam di Indonesia dengan tajuk “Satu Semangat, Medan Perjuangan Berbeda”.
Kronologi Perjuangan dan Pergeseran Medan Perjuangan
Dr. KH. Abdul Hakim menguraikan lini masa sejarah yang menjadi pilar pergerakan umat:
-
Lahirnya Masyumi (1945): Ditetapkan pada 7 November 1945 sebagai wadah politik umat yang menghimpun berbagai organisasi dan tokoh Islam.
-
Natsir Perdana Menteri & Mosi Integral (1950–1951): Peran bersejarah Mohammad Natsir melalui Mosi Integral 3 April 1950 yang mengembalikan bentuk negara dari Republik Indonesia Serikat (RIS) kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
-
Pembubaran Masyumi & Konsolidasi Tokoh (1960–1967): Setelah Masyumi dibubarkan pada 17 Agustus 1960, perjuangan politik kepartaian tidak lagi menjadi ruang utama. Para tokoh eks-Masyumi kemudian melakukan konsolidasi untuk mengembangkan perjuangan melalui jalur dakwah, pendidikan, kaderisasi, sosial, dan pembinaan umat.
-
Pendirian DDII (26 Februari 1967): DDII resmi didirikan oleh para tokoh Islam seperti Mohammad Natsir, Mohammad Roem, Sjafruddin Prawiranegara, HM Rasjidi, Burhanuddin Harahap, Prawoto Mangkusasmito, Kasman Singodimedjo, Buchari Tamam, dan tokoh lainnya.
-
Perkembangan DDII (1967–Sekarang): DDII berkembang menjadi organisasi dakwah dan pendidikan dengan jaringan di seluruh Indonesia guna mengokohkan peran pembinaan umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Ketika pintu politik menyempit, medan dakwah diperluas. Terjadi pergeseran dari perjuangan politik kepartaian di era Masyumi menuju perjuangan dakwah, pendidikan, dan pembinaan masyarakat melalui DDII,” jelas Dr. KH. Abdul Hakim mengutip semangat para pendiri DDII.
Lima Fungsi Utama DDII
Lebih lanjut, Ketua BAP DPD RI ini menegaskan bahwa DDII hingga saat ini terus menjalankan lima fungsi utama bagi umat dan bangsa:
-
Pengawal akidah
-
Penegak syariah
-
Perekat ukhuwah
-
Pengokoh NKRI
-
Pendukung solidaritas umat dan dunia Islam
Menutup pemaparannya, Dr. KH. Abdul Hakim mengajak seluruh elemen masyarakat dan kader untuk meneruskan kesinambungan nilai perjuangan ini. Beliau mengingatkan kembali pesan legendaris Mohammad Natsir: “Islam adalah agama yang lengkap, yang mengatur kehidupan pribadi, masyarakat, dan negara,” sehingga semangat dakwah, pendidikan, kaderisasi, dan sosial harus terus dihidupkan untuk kemajuan bangsa.

















