Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena ketakwaan adalah sebaik-baik bekal di dunia yang fana ini dan satu-satunya penyelamat kita di hari akhir kelak. Allah ﷻ berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,
Hari ini kita hidup di zaman yang penuh ujian. Sebuah zaman yang pernah diprediksi oleh Rasulullah ﷺ, di mana batasan antara yang halal dan haram kian samar. Beliau bersabda:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
Artinya: “Sungguh akan ada dari umatku, kaum yang menghalalkan zina, sutra (bagi laki-laki), minuman keras, dan alat-alat musik.” (H.R. Al-Bukhari no.5590)
Kita telah sampai di era “Normalisasi Dosa“. Perkara yang dahulu dianggap tabu dan memalukan, kini justru dipromosikan. Kemungkaran yang semestinya dijauhi, malah dipertontonkan dengan rasa bangga.
Fenomena ini sangat memprihatinkan, terutama di kalangan generasi muda atau yang sering kita sebut Gen Z. Tumbuh besar bersama media sosial, banyak dari mereka terjebak dalam arus budaya luar dan gaya hidup hedonis yang menggerus nilai-nilai iman.
Salah satu penyakit hati yang menjangkiti anak muda hari ini adalah FOMO (Fear of Missing Out) takut ketinggalan tren. Mereka merasa janggal jika tidak mengikuti apa yang sedang “viral”, meskipun itu melanggar syariat.
Apa buktinya?
Pertama, Normalisasi pacaran dan zina. Banyak anak muda merasa “kurang gaul” jika tidak memiliki pasangan. Hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak lagi disembunyikan, melainkan dipamerkan lewat konten “kebucinan” di TikTok, Instagram, hingga Facebook. Foto-foto mesra diumbar ke publik, dan anehnya, justru panen komentar positif dan dukungan.
Astaghfirullahal Adziim
Padahal, Rasulullah tegas mengingatkan:
لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ الشَّيْطَانُ ثَالِثَهُمَ
Artinya: “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan seorang perempuan kecuali setan menjadi yang ketiganya.” (H.R. At-Tirmidzi no.2165)
Dulu orang malu berbuat dosa, kini mereka melakukannya terang-terangan tanpa rasa bersalah, bahkan merasa bangga atau biasa disebut flexing dosa.
Kedua, Tren fashion yang mengumbar aurat. Cara berpakaian kini dianggap sekadar ekspresi seni atau fashion. Perempuan berpakaian ketat dengan jilbab yang tidak menutup dada, atau laki-laki dengan celana sobek-sobek. Mereka yang mengikuti ini dianggap trendy dan “ngerti outfit“, sedangkan yang berusaha menutup aurat secara syar’i sering dicemooh sebagai “kolot” atau “sok suci“. Padahal Allah berfirman:
يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ قَدۡ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكُمۡ لِبَاسٗا يُوَٰرِي سَوۡءَٰتِكُمۡ وَرِيشٗاۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٞۚ ذَٰلِكَ مِنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَ ٢٦
Artinya: “Wahai anak cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan bulu (sebagai bahan pakaian untuk menghias diri). (Akan tetapi,) pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu merupakan sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Allah agar mereka selalu ingat” (QS. Al-A’raaf: 26)
Ketiga, Pelarian masalah ke jalan maksiat. Tidak sedikit pemuda saat ini yang menjadikan maksiat sebagai healing atau pelarian. Putus cinta, masalah keluarga (broken home), atau tekanan ekonomi dijadikan alasan untuk menenggak miras, mengkonsumsi pil ekstasi, atau bahkan bunuh diri. Naudzubillah.
Jamaah sekalian, mengapa fenomena ini terjadi pada Gen Z?
Ini adalah tipu daya setan (talbis iblis). Setan membungkus dosa besar dengan nama-nama yang indah: pergaulan bebas disebut “kebebasan”, zina disebut “cinta”, dan maksiat disebut “keren/modern”. Allah berfirman:
تَٱللَّهِ لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٖ مِّن قَبۡلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ ٱلۡيَوۡمَ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ٦٣
Artinya: “Setan menjadikan perbuatan mereka (yang buruk) terasa indah bagi mereka.” (QS. An-Nahl: 63)
Inilah tanda akhir zaman. Jika orang terdahulu menyembunyikan dosanya karena takut, orang zaman sekarang berlomba-lomba memposting dosanya demi likes dan validasi manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ
Artinya: “Seluruh umatku akan diampuni kecuali mereka yang terang-terangan berbuat dosa (Al-Muhajirin).” (H.R. Al-Bukhari no.6069 dan Muslim no.2990)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Islam tidak membenci anak muda. Justru pemuda adalah harapan umat. Namun, generasi ini akan hancur jika dibesarkan dengan maksiat dan jauh dari agama. Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bahwa salah satu dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat adalah:
وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ
Artinya: “Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.” (H.R. Bukhari no.660 dan Muslim no.1031)
Lantas, apa yang harus kita tanamkan kepada Gen-Z agar selamat dari fitnah ini?
Pertama, Tanamkan rasa malu. Karena rasa malu adalah benteng iman. Rasulullah ﷺ bersabda “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” (H.R. Bukhari)
Kedua, Kita harus menguatkan Identitas kita sebagai seorang muslim. Berbanggalah menjadi Muslim, tidak malu berakhlak baik, dan tidak terpengaruh oleh tren yang menjerumuskan sehingga kita terlepas daripada koridor-koridor yang sudah ditetapkan dalam Islam. Allah berfirman :“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?”. (QS. Fussilat:33).
Ketiga, Jagalah Circle pergaulan. Pilihlah teman yang mengajak ke masjid, bukan yang menyeret ke lingkaran kemaksiatan, ingat teman dekat adalah penentu kemana langkah kita berjalan…
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ،
فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً،
وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
Artinya: “Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang besi. Penjual minyak wangi, bisa jadi ia memberimu minyak wangi, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan tukang besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu, atau engkau akan mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” (H.R. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628).
Keempat, Jadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai “Lifestyle“. Jadikan agama sebagai landasan hidup, bukan sekedar status dan pengakuan formal.
Kelima, Bijak dalam bermedia sosial. Dalam dunia maya, kita dituntut harus bisa mengendalikan diri, bukan dikendalikan. terapkan adab bermedia yaitu saring sebelum sharing, mengutamakan nilai manfaat dibanding popularitas, dan mengelola penggunaaan agar tidak melampaui batas, dengan sikap bijak ini, teknologi menjadi sarana kebaikan, bukan sumber keburukan.
Keenam, yang perlu kita tanamkan kepada gen-Z agar terhindar dari fitnah FOMO yaitu dengan kita arahkan potensi diri mereka ke hal positif. Gen Z perlu ruang untuk kreativitas, konten edukatif, olahraga, relasi yang luas dan karya produktif lainya. Dengan demikian energi muda tidak akan pernah habis untuk hal sia-sia, tetapi berubah menjadi amal, prestasi, dan kontribusi nyata bagi agama, masa depan dan bangsa.
Jamaah Rahimakumullah,
Dari khutbah ini, dapat kita simpulkan bahwa perilaku maksiat yang dianggap biasa seperti pacaran, pergaulan bebas, dan pamer dosa di media sosial adalah racun yang mematikan. Normalisasi dosa ini tidak hanya merusak pelaku, tapi juga menghancurkan tatanan masyarakat.
Tugas kita sebagai pelajar, teman, saudara adalah merangkul mereka. Syariat Islam hadir bukan untuk mengekang kebebasan, melainkan untuk menjaga kehormatan dan keselamatan kita dunia akhirat. Mari berhenti menormalisasi dosa. Apa yang biasa belum tentu benar, dan kebenaran harus tetap dijunjung tinggi meskipun terasa asing. Jika akidah pemuda kuat, masa depan Islam akan cerah. Namun jika moral mereka rusak, bangsa dan agama akan hancur sebelum waktunya.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Credit :
Astyan Nugroho dan Muhammad Fahmi Al Fatah
(Santri PPTQ Dewan Da’wah Lampung)

















