Penulis:
Samsu Udayana Nurdin
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَعْطَىنَا بِالصَّبْرِ وَالشُّكْرِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الصَّبُوْرُ الشَّكُوْرُ وَأَشْهَدُ اَنَّ حَبِيْبَنَا وَ نَبِيَّنّا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَخْرَجَنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Jamaah Jum’at yang di Muliakan Allah SWT.
Alam ini diciptakan Allah SWT menurut ukuran yang ditetapkan oleh-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman-Nya:
اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ
Artinya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran”. (QS. Al-Qamar: 49).
Penciptaan “sesuai ukuran” ini sangat menarik untuk menjadi dasar renungan sekaligus menjadikannya pedoman dalam kehidupan.
Dalam sebuah sistem, baik itu berupa teknologi, organisasi, lingkungan atau yang lain, kesesuaian ukuran merupakan syarat mutlak agar sistem itu dapat berfungsi optimal. Bisa kita bayangkan, sebuah teknologi super canggih, jika komponen-komponennya diciptakan tidak sesuai dengan ukuran, maka pastilah teknologi itu tidak akan berguna. Atau mungkin contoh sederhana disekitar kita, kursi misalnya. Bagaimana jika kaki-kaki kursi dibuat tidak sesuai dengan ukurannya?. Terjengkang kita kalau duduk di atasnya..
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah..
Ciptaan Allah berupa alam semesta ini jauh lebih rumit dari sebuah teknologi yang paling canggih yang saat ini bisa diciptakan manusia. Sehebat robot yang saat ini bisa diciptakan, kemampuan dan kerumitannya tidak bisa mengalahkan manusia. Ini artinya, pencipta robot itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Pencipta manusia. Karena itu, QS. Al-Qomar: 49 di atas, bisa juga kita pahami sebagai sebuah deklarasi dari Allah bahwa Allah adalah Pencipta yang Paling Sempurna.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah..
“Sesuai dengan ukuran” itu berarti tidak boleh lebih kecil atau kurang, dan tidak juga boleh lebih besar atau berlebihan, atau dengan bahasan yang sederhana bisa kita bilang “pas”. Untuk sesuatu yang punya dimensi yang kuantitatif, maka sesuai ukuran ini menjadi sesuatu yang relative mudah untuk memenuhinya. Misalnya, tangki bensin kapasitasnya 5 liter, maka beli bensin yang sesuai ukuran ya beli 5 liter. Mobil kapasitas 5 penumpang, maka jumlah penumpang yang sesuai ukuran ya 5 orang. Bagaimana kalua bensinnya diisi 3 liter, ya boleh saja. Tapi pasti kalah efisien. Kenapa?. Kalau disi 5 liter, kendaraan bisa jalan 100 km baru isi lagi. Tapi kalua isi 3 liter, baru jalan 60 km sudah harus isi lagi. Artinya, isi bensinnya kurang dari ukuran, kita harus lebih sering beli bensin untuk jarak tempuh yang sama. Bagaimana kalua isinya lebih dari 5 liter?. Ya lebih bahaya…tumpah kemana-mana.
Begitu juga mobil kapasitas 5 penumpang, bisa saja diisi 3 penumpang… Tapi kan kurang efisien. Untuk jarak yang sama, bensinnya sama, tapi cuma bawa 3 orang, kan lebih efisien kalua bawa 5 orang.. Bagaimana kalua bawa 6 orang? Yang mungkin saja, tapi pasti lebih berbahaya dibandingkan dengan bawa 5 orang.
Ilustrasi di atas bisa memberi gambaran bahwa sesuatu yang tidak sesuai ukuran itu bisa merugikan karena tidak efisien atau bahkan berbahaya karena berlebihan. Untuk kasus yang berlebihan, Allah menggambarkan prilaku ini sebagai sesuatu yang dibenci Allah dan dapat menyebabkan Murkanya Allah. Allah berfirman:
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ
Artinya: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْۙ وَلَا تَطْغَوْا فِيْهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِيْۚ وَمَنْ يَّحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِيْ فَقَدْ هَوٰى
Artinya: “Makanlah sebagian yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepadamu. Janganlah melampaui batas yang menyebabkan kemurkaan-Ku akan menimpamu. Siapa yang ditimpa kemurkaan-Ku, maka sungguh binasalah dia.” (QS. Taha: 81).
Kedua ayat ini memberi gambaran yang jelas tentang bagaimana sikap Allah terhadap sesuatu yang berlebih-lebihan, khususnya makan. Ilustrasi yang khatib sampaikan sebelumnya tentang bensin dan penumpang bisa memperjelas bahwa sesuatu yang berlebih-lebihan, bukanlah hanya makanan, dapat menimbulkan bahaya. Dan bahaya ini, dalam konteks makanan, dapatlah kita pahami sebagai bentuk kebencian atau mungkin kemurkaan Allah terhadap sesuatu yang kita makan secara berlebih-lebihan.
Dalam ringkasan Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Imam Bukhari berkata,”Ibnu Abbas berkata,”Makan dan berpakaianlah sesuai kehendakmu dan jangan sampai kamu salah dalam dua hal, yaitu berlebih-lebihan dan sombong”. Dalam ringkasan Tafsir tersebut juga disampaikan bahwa bahwa sebagian ulama salaf berkata bahwa Allah mengumpulkan semua kebaikan dalam setengah ayat, yaitu makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan.
Dalam hal makanan, berlebih-lebihan secara ilmiah telah terbukti menjadi penyebab berbagai penyakit yang mematikan. Berlebihan makan bisa menyebabkan kegemukan, diabetes, kolesterol tinggi, kanker, stroke dan penyakit-penyakit lainnya. Bahkan dokter secara jelas ketika memberikan resep obat akan menuliskan dosisnya agar tidak berlebihan…beranikan anda makan obat yang diresepkan dokter secara berlebihan?.
Bagaimana agar tidak berlebihan?.
Pedoman yang pasti agar tidak berlebih-lebihan, dalam hal apapun, adalah “ikuti pedoman/aturan”. Agar tidak berlebihan isi bensin, ikuti aturan. Agar tidak kelebihan penumpang, ikuti aturan, akan tidak berlebihan minum obat, ikuti aturan. Agar tidak berlebihan bersikap sehingga tidak sopan, ikuti aturan. Agar beribadah tidak berlebihan, ikuti aturan…. Perusahaan mobil atau teknologi terkemuka, selalu menyertakan buku pedoman ketika menjual produknya agar kita dapat memperlakukan produknya sesuai ukuran. Bukan kah masuk akal jika Allah SWT juga menerbitkan pedoman ketika menciptakan manusia dan alam semesta?
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah..
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa salah satu indikasi Kesempurnaan Allah SWT dalam mencipta adalah ciptaan-Nya yang sesuai ukuran. Penciptaan sesuai ukuran tersebut menghasilkan ciptaan yang sempurna. Karena itu, agar kita terhidar dari kebencian atau bahkan kemurkaan Allah dan bisa mendapatkan manfaat terbaik dari apa yang Allah ciptakan maka kita harus menggunakan atau memperlakukan segalanya sesuai ukuran. Dan kunci agar kita bisa melakukan sesuatu sesuai dengan ukuran adalah mengikuti aturan, kalu tidak ikuti aturan, tunggu saja sampai kita penyakitan…
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

















