Penulis:
Mahfudin Aby Fakhri
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِالِلّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ الِلّٰهِ¸ أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيمْ
Maasyirol muslimin Rahimakumullah….
Hadits dari abu Hurairah menceritakan ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “ya Rasul siapakah yang harus kita hormati?”. Rasulullah ﷺ menjawab: “ibumu”. Kemudian sahabat itu bertanya lagi: “lalu siapa lagi ya Rasul?”, jawab Rasulullah ﷺ: “ibumu”. Lalu sahabat itu kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama sampai tiga kali dan jawaban Rasulullah ﷺ pun sama sebanyak tiga kali yaitu “ibumu”. Kemudian untuk keempat kalinya sahabat bertanya: “kemudian siapa lagi ya Rasulullah ?” baru Rasulullah ﷺ menjawab: “ayahmu”. (H.R. Bukhar no.5972 dan Muslim no.2548)
Imam Al qurtubi menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan kecintaan dan kasih sayang terhadap ibu itu harus lebih besar dibandingkan terhadap seorang ayah, karena ibu mengalami tiga kesulitan: Ibu mengalami kesulitan hamil, Ibu mengalami kesulitan melahirkan, dan Ibu mengalami kesulitan menyusui dan merawat.
Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu mustahil dimiliki oleh seorang ayah.
Ibu mengalami kesulitan hamil. Bayangkan betapa susahnya ibu kita telah mengandung kita selama 9 bulan lamanya. Kemanapun kita pergi pasti ibu selalu membawa kita lewat perutnya hingga berjalan saja terasa berat, duduk pun ibu harus sangat berhati-hati agar kita di dalam kandungannya tidak menjadi terganggu. Bahkan untuk tidur pun memerlukan posisi yang tepat supaya tidak melukai kita yang berada dalam kandungannya.
Setelah 9 bulan tibalah saatnya ibu melahirkan kita. Bayangkan di rumah sakit atau di rumah bersalin darah ibu kita tertumpah hanya untuk melahirkan kita, keringat membanjiri wajah ibunya. Ibu bertarung dengan kematian, nyawanya berada antara hidup dan mati hanya untuk mendengar merdunya suara tangisan kita.
Apakah sampai di situ saja pengorbanan ibu kepada kita? Ternyata belum……..
Allah ﷻ. Berfirman di dalam surat Luqman ayat 14:
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ
Artinya: “Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.” (QS. Luqman: 14)
Ma’asyiral muslimin rohimakumullah, setelah melahirkan kita ibu harus menyusui kita selama 2 tahun merawat kita, memandikan, membersihkan kotoran-kotoran, menyuapi dan membersihkan muntahan-muntahan kita. Sungguh luar biasa, bahkan setelah itu ibu masih menjaga dan mengajarkan kepada kita berbagai hal tentang kehidupan.
Ma’asyiral muslimin rohimakumullah, dikatakan anak yang mulia itu adalah yang senantiasa memuliakan ibunya, dikatakan anak yang terhormat adalah anak yang senantiasa menghormati ibunya, dikatakan anak yang terpuji adalah anak yang senantiasa memuji ibunya dan memaafkan segala khilafnya.
Ingat jamaah sekalian, doa seorang ibu itu adalah doa yang paling diijabah oleh Allah ﷻ. Tangis seorang ibu adalah doa yang paling diaminkan oleh para malaikat, maka tidak ada anak yang sukses dunia dan akhirat selain anak yang selalu meminta restu kepada ibunya, dan tidak ada anak yang celaka dunia dan akhirat selain anak yang selalu menoreh luka pada hati ibunya dengan kata-kata atau perbuatan kasar, naudzubillah.
Alkisah, di Riyad Saudi Arabia ada seorang ibu yang sangat Sholeh yang selalu mendoakan kepada anaknya meskipun dalam suasana marah sekalipun.
Kebiasaan di Saudi kalau ada tamu itu pasti memotong seekor kambing muda. Suatau ketika, ibu solehah ini telah menyiapkan dan menyajikan kambing bakar muda untuk tamunya. Saat kambing tersebut disajikan, anak beliau yang berumur 3 atau 4 tahun menghampiri dan menaburkan beberapa genggam pasir ke kambing yang telah siap saji tersebut. Alangkah marahnya si ibu solehah ini melihat kambing yang telah siap disajikan ditaburi pasir oleh anaknya. Pada saat marah tersebut, keluarlah kata-kata amarah dari mulut sang ibu.
Setelah peristiwa itu sang anak tersebut terus tumbuh dengan kecerdasan yang luar biasa, dan di usia 12 anak ini sudah menjadi hafiz Al-Qur’an. Dan yang mengangumkan adalah saat usia 22 tahun, sang anak tersebut benr-benar menjadi imam dan khotib di Masjidil Haram.
Tahukan jamaah siapakah anak tersebut?. Dia adalah syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz Muhammad as Sudais atau yang lebih dikenal dengan nama Syekh Sudais, yang hingga saat ini bacaan Al-Qur’annya sangat digemari digemari sangat disukai dan banyak orang yang meniru bacaan beliau karena bacaannya sangat indah, dan makhorijul hurufnya sangat bagus. Nah itulah kehebatan doa dari seorang ibu yang sangat sholeh, meskipun dalam suasana marah pun tetap mendoakan anaknya agar menjadi anak yang sukses di dunia maupun di akhirat.
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah, Kita juga jangan melupakan pengorbanan ayah kita. Beliaulah yang telah membanting tulang mencari nafkah menantang terik matahari, melawan dinginnya malam, hanya untuk membahagiakan istri dan anak-anaknya
Tiada kata yang dapat menjelaskan pengorbanan dan jasa kedua orang tua kita dengan sempurna. Karena itu berusahalah berusahalah untuk tidak pernah mengecewakan orang tua kita, jangan pernah membuat orang tua kita ini menjadi sedih karena perkataan dan perbuatan kita. Kita tidak akan pernah mampu membayar segala pengorbanan mereka, bahkan Allah ﷻ sangat murka kepada anak yang durhaka kepada ibu bapaknya.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
«رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ»
Artinya: “Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua.” (H.R. Tirmidzi no.1899)
Ma’asyiral musliminmuslimin Rahimakumullah Demikianlah khotbah singkat ini mudah-mudahan kita semua bisa lebih menyayangi mencintai kedua orang tua kita terutama kepada ibu kita. Doakanlah setelah kita melaksanakan salat fardu lima waktu dengan doa yang sering kita panjatkan yaitu:
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرا
Artinya: “Ya Allah ﷻ ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku dan sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangi aku masih kecil dulu”…aamiin
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ

















