Credit:
Vijay Syahputra
(Sekretaris Bidang Pendidikan DDII Lampung)
الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Hadirin jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar benarnya takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya dengan penuh keikhlasan.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah ﷻ,
Dakwah sering dipahami sebagai aktivitas lisan: ceramah, khutbah, atau nasihat yang disampaikan di hadapan banyak orang. Namun sesungguhnya, dakwah tidak selalu harus terdengar oleh banyak telinga atau terlihat oleh banyak mata. Ada dakwah yang dilakukan dalam sunyi, tanpa tepuk tangan, tanpa pujian, namun sangat bernilai tinggi di sisi Allah ﷻ.
Allah ﷻ berfirman:
ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ١٢٥
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Kata hikmah dalam ayat ini tidak terbatas pada ucapan, tetapi mencakup kebijaksanaan dalam sikap dan perilaku. Dakwah dengan hikmah sering kali hadir dalam bentuk keteladanan, kesabaran, dan akhlak mulia yang dilakukan secara tenang dan diam-diam.
Rasulullah ﷺ telah memberikan contoh nyata tentang dakwah dalam sunyi. Sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau telah dikenal sebagai pribadi yang jujur dan amanah. Akhlak inilah yang membuka hati banyak orang untuk menerima Islam.
Allah ﷻ menegaskan:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ٤
Artinya: “Dan sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Jamaah yang dirahmati Allah ﷻ, Dakwah dalam sunyi tercermin ketika seorang Muslim tetap jujur meskipun tidak diawasi, menjaga shalat ketika tidak ada yang melihat, menahan lisan dari keburukan, serta menjauhi maksiat saat sendirian. Semua itu adalah dakwah yang tidak terdengar suaranya, namun dirasakan pengaruhnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ
Artinya: “Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niatnya.” (H.R. Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)
Amal yang dilakukan secara tersembunyi sering kali lebih mencerminkan keikhlasan. Dakwah dalam sunyi lahir dari niat yang lurus, bukan untuk dikenal manusia, tetapi untuk mencari ridha Allah ﷻ semata.
Hadirin jamaah Jum’at Rahimakumullah, Marilah kita senantiasa menjaga ketakwaan kepada Allah ﷻ dalam setiap keadaan, baik ketika berada di tengah manusia maupun ketika sendiri. Setiap Muslim sejatinya adalah da’i. Tidak semua orang mampu berdakwah dengan lisan, tetapi setiap orang mampu berdakwah dengan perbuatannya. Perilaku yang baik, sikap yang jujur, dan akhlak yang mulia adalah pesan dakwah yang hidup dan nyata.
Allah ﷻ berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٢
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2)
Ayat ini mengingatkan bahwa dakwah akan kehilangan maknanya apabila tidak dibarengi dengan perbuatan. Bahkan, dakwah tanpa kata-kata namun penuh keteladanan sering kali lebih kuat pengaruhnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Artinya: “Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (H.R. Muslim no. 1893)
Hadirin jamaah Jum’at Rahimakumullah,
Di zaman yang penuh dengan hiruk-pikuk ini, manusia sering diukur dari apa yang terlihat dan terdengar. Amal kebaikan kerap dinilai dari seberapa ramai disaksikan manusia. Padahal Islam mengajarkan bahwa nilai suatu amal bukan terletak pada sorotan manusia, tetapi pada penilaian Allah ﷻ yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi.
Allah ﷻ berfirman:
وَأَسِرُّواْ قَوۡلَكُمۡ أَوِ ٱجۡهَرُواْ بِهِۦٓۖ إِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ١٣
Artinya: “Dan rahasiakanlah ucapanmu atau nyatakanlah, sungguh Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Al-Mulk: 13)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah ﷻ tidak hanya menilai apa yang tampak, tetapi juga niat dan keikhlasan yang tersembunyi di dalam dada. Inilah hakikat dakwah dalam sunyi: dakwah yang tidak membutuhkan pengakuan manusia, karena cukup Allah ﷻ sebagai tujuan dan saksi.
Banyak amal besar justru lahir dari kesunyian. Orang tua yang mendidik anak dengan sabar, suami yang menjaga amanah keluarganya, pedagang yang jujur meski tidak diawasi, pemimpin yang adil meski tanpa pujian semua itu adalah dakwah yang nyata, meskipun dilakukan tanpa mimbar dan panggung.
Rasulullah ﷺ mengingatkan tentang keutamaan amal tersembunyi. Dalam sebuah hadits disebutkan:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ
Artinya: “Tujuh golongan yang akan Allah ﷻ naungi pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya…” (H.R. Al-Bukhari no.660 dan Muslim no.1031)
Di antara mereka adalah orang yang bersedekah lalu menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Ini menunjukkan bahwa amal yang dilakukan dalam sunyi memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah ﷻ.
Dakwah dalam sunyi juga melatih keikhlasan. Ia membersihkan hati dari keinginan dipuji dan dipandang manusia. Seseorang yang terbiasa berbuat baik meski tidak dilihat manusia, akan tetap istiqamah ketika berada di tengah keramaian.
Allah ﷻ berfirman:
مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ ٤٦
Artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (Qs. Fussilat : 46)
Kebaikan yang kita lakukan, baik disaksikan manusia atau tidak, sejatinya akan kembali kepada diri kita sendiri. Dakwah dalam sunyi adalah investasi iman yang buahnya akan kita petik di dunia dan akhirat.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah ﷻ, Dalam kehidupan sosial, sering kali ucapan kalah kuat dibandingkan perbuatan. Banyak orang tersentuh bukan karena nasihat panjang, tetapi karena akhlak yang konsisten. Sikap sabar, rendah hati, dan amanah adalah dakwah yang berbicara tanpa kata-kata.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقً
Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.”(H.R. At-Tirmidzi no.2018)
Hadits ini menunjukkan bahwa akhlak mulia merupakan sarana dakwah yang paling kuat dan paling dicintai Rasulullah ﷺ.
Hadirin jamaah Jum’at Rahimakumullah, marilah kita menata kembali niat dan langkah kehidupan kita. Jadikan setiap aktivitas sebagai ladang dakwah: dakwah di rumah, di tempat kerja, di jalan, bahkan saat sendiri. Jangan remehkan amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas, sebab bisa jadi itulah yang paling berat timbangannya di sisi Allah ﷻ.
Jika kita belum mampu berdiri di mimbar dakwah, maka berdakwahlah dengan kejujuran. Jika lisan kita belum fasih menasihati, maka berdakwahlah dengan keteladanan. Dan jika kita berada dalam sunyi, maka jadikan sunyi itu sebagai ruang untuk berdakwah kepada diri sendiri dengan memperbaiki iman dan amal.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang istiqamah dalam kebaikan, baik di tengah keramaian maupun dalam kesunyian; berdakwah dengan lisan, dan lebih lagi berdakwah dengan akhlak.
Menjadi teladan dalam kebaikan meskipun tanpa ucapan adalah bagian dari dakwah dalam sunyi. Kebaikan kecil yang dilakukan dengan konsisten dan ikhlas dapat menjadi sebab hidayah bagi orang lain.
Semoga kita mampu menjadi hamba Allah ﷻ yang berdakwah dengan lisan ketika mampu, dan berdakwah dengan akhlak ketika diam; berdakwah di tengah keramaian, dan tetap berdakwah dalam sunyi.
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

















