BANDAR LAMPUNG — Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi Lampung menggelar kegiatan rutin Kajian Sabtu Pagi yang bertempat di Aula Menara Dakwah Lampung. Kajian kali ini menghadirkan penceramah utama Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, H. Fathurrahman Mahfudz, BIRK., M.M., dengan mengusung tema “Keluarga Idaman: Ketika Rumah Menjadi Tempat Paling Dirindukan — Membangun Rumah Tangga yang Sakinah, Kuat, dan Berdaya”.
Dalam pemaparannya, H. Fathurrahman Mahfudz menekankan pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama masyarakat. Kualitas suatu keluarga, menurut beliau, akan menentukan kualitas umat serta masa depan bangsa. Rumah bukan sekadar urusan pribadi, melainkan madrasah pertama untuk membentuk iman, akhlak, disiplin, dan rasa tanggung jawab.
“Membangun keluarga berarti ikut serta membangun peradaban. Di rumahlah anak-anak pertama kali belajar tentang kasih sayang, kejujuran, dan kepedulian sebelum mereka terjun berkontribusi bagi masyarakat,” ujar Ustaz Fathurrahman.
Tiga Pilar Utama dan Konsep Ketahanan Keluarga
Dalam materi yang disampaikan, beliau menjabarkan tiga pilar utama untuk membangun keluarga yang kokoh:
-
Iman & Ibadah: Menghidupkan suasana ibadah, salat, tilawah Al-Qur’an, dan doa di dalam rumah. Beliau mengutip hadis Rasulullah SAW agar tidak menjadikan rumah seperti kuburan, melainkan tempat yang hidup dengan nilai-nilai agama.
-
Komunikasi & Adab: Menerapkan musyawarah, saling mendengarkan, jujur, serta berkata baik dalam menyelesaikan setiap persoalan keluarga.
-
Keadilan & Kasih Sayang: Berbagi tanggung jawab, menghargai, serta saling memaafkan. Beliau mengingatkan hadis Nabi SAW agar seorang mukmin tidak membenci pasangannya, melainkan melihat kebaikan-kebaikan yang ada padanya.
Beliau juga menegaskan bahwa keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah atau ujian, melainkan keluarga yang mampu menghadapi konflik dengan adab, kejujuran, dan sikap saling menguatkan.
Langkah Nyata dan Teladan Rasulullah SAW
Sebagai contoh keteladanan, pembawa materi mengutip kisah Rasulullah SAW yang tidak segan membantu pekerjaan rumah tangga keluarga dan keluar menunaikan salat ketika waktunya tiba. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan keluarga memerlukan kehadiran, bimbingan, serta kelembutan.
Di akhir kajian, para jamaah diajak untuk mulai menerapkan langkah-langkah nyata sejak dari rumah, seperti meluangkan waktu ibadah bersama, mengadakan musyawarah berkala, membagi tugas secara adil, dan membiasakan tutur kata yang baik. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama mengutip Surah Al-Furqan ayat 74 agar setiap keluarga dianugerahi pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk hati (qurrata ‘ayun) serta pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.


















