Bandar Lampung – Ketua Dewan Da’wah Lampung, Ustaz Muhammad Yani Marjas, menegaskan pentingnya konsolidasi dan kolaborasi masif di antara seluruh ormas dan lembaga Islam untuk membentengi akidah masyarakat dari berbagai ancaman penyimpangan maupun gerakan pendangkalan akidah yang nyata terjadi di lapangan.
Pada pembukaan Da’wah Sinergy Summit 2026, Ustaz Yani memaparkan sejumlah catatan historis dan rekam jejak dinamika dakwah di Lampung sejak dekade 1980-an hingga kondisi terkini di tahun 2024. Ia menyoroti fenomena pemanfaatan situasi krisis ekonomi dan bencana alam oleh pihak Misionaris untuk memengaruhi akidah masyarakat rentan.
“Persoalan kristenisasi dan pemurtadan ini bukan cerita kosong, melainkan kenyataan yang kita hadapi di lapangan. Mulai dari penanganan pasca-gempa Liwa tahun 1995 hingga dinamika sengketa pendirian rumah ibadah tanpa izin di Raja Basa Jaya baru-baru ini, semuanya memerlukan advokasi dan pendampingan yang serius,” ujar Ustaz Yani Marjas di Hotel G Syariah, Rajabasa, Lampung, Sabtu (1/8/2026).
Ia menambahkan, keterbatasan kondisi ekonomi dan minimnya pemahaman agama di wilayah pelosok kerap dimanfaatkan pihak luar melalui bantuan logistik. Oleh karena itu, Dewan Da’wah bersama lembaga mitra seperti Baznas dan pondok pesantren terus berupaya memberikan penetrasi dakwah penyeimbang, seperti pengiriman da’i serta bantuan sosial berbasis pemberdayaan.
“Di daerah-daerah yang rentan, mereka masuk dengan memberikan bantuan sosial atau hewan kurban. Respons kita tidak boleh sekadar mengecam, tetapi harus hadir langsung memberikan solusi nyata, baik berupa pengiriman hewan kurban, pembangunan masjid, maupun penempatan da’i di pelosok,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ustaz Yani mengenang jejak historis peran Mohammad Natsir yang memandang Provinsi Lampung sebagai salah satu benteng dakwah penting di Indonesia. Pada dekade 1980-an, Dewan Da’wah Pusat bahkan menerjunkan setidaknya delapan da’i senior untuk membina wilayah-wilayah yang dikategorikan rawan akidah, sebuah langkah yang tradisinya terus dilanjutkan hingga hari ini.
Pendampingan hukum dan advokasi sosial juga menjadi fokus utama Dewan Da’wah dalam menjaga kondusivitas antarumat beragama. Ustaz Yani membagikan pengalaman penanganan polemik pendirian tempat ibadah tak berizin di Rajabasa Jaya yang berhasil diselesaikan secara damai melalui perdebatan konstruktif dan prosedur FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama), hingga bangunan tersebut akhirnya dialihfungsikan menjadi fasilitas yang bermanfaat bagi warga sekitar.
“Ketika ada potensi pelanggaran aturan pendirian rumah ibadah, kita kedepankan dialog dan argumentasi regulasi sesuai SKB Tiga Menteri. Alhamdulillah, dengan pendekatan yang tepat, masalah di Rajabasa Jaya dapat diselesaikan secara kondusif dan lokasinya kini dipergunakan untuk kegiatan yang menguatkan kebersamaan warga,” jelasnya.
Tidak hanya fokus di wilayah perkotaan, Dewan Da’wah Lampung juga terus memantau dinamika sosial di daerah pelosok seperti Penawar Aji. Di kawasan tersebut, tim dakwah turun langsung memberikan penguatan spiritual dan pendampingan ekonomi agar masyarakat tidak mudah tergiur oleh iming-iming bantuan material yang berisiko mengikis keyakinan mereka.
Ustaz Yani mengapresiasi kehadiran para pimpinan dan perwakilan organisasi Islam yang hadir seperti Muhammadiyah, DMI, KMI, dan Hidayatullah dan dapat duduk bersama merumuskan strategi dakwah terpadu di Lampung. Menurutnya, sinergi ini akan melahirkan kekuatan besar untuk menjaga kondusivitas serta membina umat secara lebih efektif.
“Alhamdulillah, hari ini lembaga-lembaga dakwah bisa berkumpul dan duduk bersama memikirkan persoalan umat di Lampung. Harapan kita, forum ini tidak hanya berhenti pada diskusi, melainkan melahirkan komitmen bersama dan mencetak para mujahid dakwah yang siap membentengi serta memperdayakan Islam secara berkelanjutan,” pungkasnya.

















