BERDOA YANG BAIK UNTUK ANAK

Juraij, sang ahli ibadah itu, sempat diterpa fitnah.

Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad mencantumkan detail kisahnya.

Syahdan, ibunda Juraij memanggil dirinya yang sedang beribadah. Akan tetapi, tiga kali memanggil, namun tak ada respon dari Juraij. Hingga ibundanya pun begitu marah, lantas berdoa,

‎لاَ أَمَاتَكَ اللهُ يَا جُرَيْجُ! حَتىَّ تَنْظُرَ فِي وَجْهِ المُوْمِسَاتِ

Laa amaataka Allahu Yaa Juraij! Hatta tanzhura fii wajhil muumisaat

“Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai Juraij, hingga wajahmu dihadapkan di depan pelacur.”

Benar saja, Juraij dituduh telah menghamili seorang wanita pelacur, hingga orang-orang menghancurkan tempat ibadahnya lantaran kecewa pada dirinya yang dipandang sebagai ahli ibadah.

Meskipun pada akhir cerita, tuduhan itu tak terbukti, sebab bayi mungil yang dilahirkan wanita pelacur itu, biidznillah bisa berbicara menceritakan fakta sesungguhnya.

Betapa doa seorang ibu itu begitu mustajab.

Lain halnya dengan seorang ibunda, yang begitu marah melihat anaknya menaburkan tanah pasir di atas jamuan makan, yang telah letih dibuatnya.

‎اذْهَبْ جَعَلكَ اللهُ اماماً لِلحَرَمين

idzhab! Ja’alaka Allahu imaaman lil haramain.

“Pergilah…! Semoga Allah menjadikanmu Imam Masjid Haramain.”

Begitulah doa baik dari sosok ibunda yang sangat marah pada anaknya. Walhasil, kini anak tersebut menjadi koordinator imam Masjidil Haram, yakni Syaikh Abdurrahman As Sudais namanya.

*Betapa doa seorang ibu itu begitu mustajab.

Ayah dan Bunda, semarah apapun kita pada anak kita, mari doakan yang baik-baik untuk mereka. Sebab doa orang tua itu begitu mustajab.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ : دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Tsalaatsu da’awaatin mustajaabaatun laa syakka fiihinna : da’watul mazhluumi, wa da’qatul musaafiri, wa da’watul waalidi ‘alaa waladihi

“Tiga doa mustajab yang tiada keraguan padanya: Doa orang terzhalimi, Doa seorang musafir dan Doa orang tua atas anaknya.” (HR. Turmudzi)

Lalu, bagaimana sekiranya pernah ‘keceplosan’ terlontar doa buruk pada anak kita?

Guru kami, Ustadz Zaid Susanto Lc hafizhahullaahu ta’ala, mengatakan :

*Cara mencabut ucapan buruk pada anak kita adalah dengan berdoa di waktu mustajab,*

“Ya Allah, seluruh ucapan burukku untuk anakku, janganlah kau kabulkan.”

Semoga bermanfaat

 

Komentar