Beristirahat di masjid setempat

Kisah Haru Selimuti Mahasiswa Dewan Dakwah Yang Bersepeda Dari Lampung ke Monas

 

Beristirahat di masjid setempat

KIBLAT.NET, Jakarta – Peserta Reuni 212 yang bersepeda dari Lampung, Abdurrahman Firdaus mengungkapkan bahwa banyak pengalaman yang ia dan delapan kawannya saat bersepeda dari Lampung ke Jakarta. Dari mulai kerusakan sepeda hingga sambutan hangat warga yang mereka jumpai.

Firdaus memutuskan berangkat ke Jakarta bersama delapan temannya dengan menggunakan sepeda. Keterbatasan uang saku menjadi alasan utama misi nekad mereka. Di sisi lain, semangat untuk bersilaturahmi dengan umat Islam dari berbagai wilayah mendorong mereka berangkat Reuni 212.

Selama menempuh perjalanan, sudah tentu banyak kendala yang dihadapi Firdaus dan teman-temannya. Rintangannya berupa jalanan becek jadi santapan utama mereka.

“Kemudian pedalnya rusak. Sampai di Kragilan, Serang ban pecah,” ungkapnya saat ditemui Kiblat di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Sabtu (01/12/2018).

Firdaus menuturkan saat pecah ban yang kedua kalinya dialami anggota rombongan, mereka sempat kesulitan menemukan ban yang ukurannya sama. Tak tanggung-tanggung, ada tujuh toko yang telah mereka datangi, tapi hasilnya nihil.

“Namun saat kita berhenti di masjid ada seorang jamaah yang mau membantu. Dia mencarikan dan menanggung biayanya. Bahkan kita juga diberi jamuan,” tuturnya.

Saat perjalanan, lanjut Firdaus, banyak warga yang menanyakan apakah Firdaus dan rombongannya akan

Abdurrahman Firdaus, salah satu peserta Reuni 212 yang bersepeda dari Lampung

mengikuti Reuni 212. Setelah mereka membenarkan, warga banyak yang memberikan doa agar selamat sampai tujuan.

“Mereka bilang ‘besok insyaallah kita bertemu di sana’, banyak yang mendoakan selamat,” ucap Firdaus.

Saat ini Firdaus dan rombongannya telah tiba di Jakarta dan siap bergabung dalam Reuni 212. Dia berharap umat Islam akan hadir ke Reuni 212 untuk tetap semangat. Karena umat Islam di Indonesia harus membuktikan bisa bersatu.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Imam S.

Komentar