Oleh : Ust. Mukhlis Sholihin
Wakil Ketua Dewan Dakwah Lampung

Alkisah, pada tahun 2011, seorang lelaki paruh baya menghadap Allah untuk selama-lamanya setelah didera sakit begitu lama. Manyisakan amanah bagi isterinya seorang gadis mungil berusia sekitar sepuluh tahun.

Sangat mudah untuk difahami, bagaimana perasaan seorang wanita yang hidup dirantau sebatang kara mengalami mushibah begitu berat. Kematian suami baginya adalah pukulan yang mengguncangkan jiwa dan menyisakan luka dalam waktu yang panjang.

Luka itu selalu terusik kala menyaksikan anak-anak orang lain seusia anaknya dengan orang tua yang lengkap. Menjalar dihatinya kerisauan, kalau-kalau putrinya menghayalkan: “Andaikan ayah saya ada seperti dia”. Padahal sianak belum tentu merasakan itu.

Begitulah seorang ibu, tak ingin jiwa anaknya terluka meski dengan duri yang kecil sekalipun.

Anak itupun dirawat dengan baik tanpa terpengaruh keguncangan apapun yang di alami. Sepertinya telah menyatu tekad dengan semboyan, “biarlah ibu menderita asalkan engkau jadi orang sukses dikemudian hari”.

Ia pilihkan sakolah favorit agar hasilnya memuaskan, dengan tidak memikirkan konpensasi untuk itu.

Sambil menanggung beban seorang diri memenuhi kebutuhan bersama anak semata wayangnya, setiap hari mengantar jemput anak sendiri tanpa bantuan pengguna jasa.

Kadang rasa lelah karena kesibukan, atau sakit datang menyapa. Semua tidak menghalangi pengorbanan sang ibu menjalankan rutinitasnya, bahkan menguatkan kesan seolah-olah jiwanya telah mengatakan: “Apapun akan ibu lakukan selagi bisa, demi kamu, anakku”

Ditingkat akhir SLA ia ikutkan bimbel pilihan agar bisa mudah melanjutkan kuliah sesuai harapan, dengan tidak mempersoalka beban yang harus ditanggung. Sementara usia terkadang membuat rasa lelah semakin mudah datang, namu semua tak dihiraukannya.

Itulah sekelumit kisah nyata yang menggambarkan kasih sayang setiap ibu bagi anak-anaknya. Kadang bentuk pengorbanannya berbeda disebabkan situasi yang tidak sama antara satu dengan orang lain, dipengaruhi, tingkat berfikir, wawasan dan mungkin kepribadian yang beragam. Tapi dihati setiap ibu juga ayah, terukir cinta yang tak terhapuskan. Ketulusan yang bersih tanpa noda.

Tak ada orang tua yang mereka-reka, kalau-kalau anaknya tidak balas budi. Kalau-kalau anaknya durhaka pada orang tua.

‌Ketulusan orang tua telah menghapuskan semua itu. Telah menyalakan semangat pengorbanan tanpa pamrih.

‌Patut jika Allah banyak mengingatkan dalam Al-Qur’an, yang diantaranya ;

(وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا * وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”
[Surat Al-Isra’ 23 – 24]

‌(وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu
[Surat Luqman 14]

Namun masih sering kita dengar, ada anak yang kurang peka terhadap perasaan orang tuanya. Bahkan rela berseteru dengan orang tua, teruama ibu yang pengorbanannya takkan terhapua.

Nabi saw. berpesan :

“Ridho Allah, adalah jika kedua orang tua ridho”

Pesan terpenting dari tulisan ini, untuk setiap anak sesukses apapun. Hendaklah selalu ingat, semua tak kan didapatkan tanpa jasa orang tua, terutama seoran ibu.

Meski takkan dapat membalas budinya, tapi jagalah hati mereka sedapat kau bisa. Agar Allah swt. ridla.

Komentar