All for Joomla The Word of Web Design

Keterbukaan

“Assalamu alaikum ustadz.” Terdengar suara salam dari seberang di HP ustadz Munwwar.

“Waalaikum salam, siapa nih? “. Tanya ustadz Munawwar sambil mendekatkan HP ke telinga kanannya.

“Muhsin ustadz, rencana besok pagi ana bersama pengurus yayasan mau ke rumah antum ustadz. Bisa ustadz.?”

“Bisa, jam 7.00 yah” ujar ustadz. Langsung menutup HP setelah menjawab salam dari mas Muhsin.

Pagi itu di ruang tamu ustadz Munawwar terlihat Mas Muhsin dan pengurus yayasan lainnya.

“Gini ustadz, ini ada hamba Allah yang mempercayakan uangnya sebanyak 400 juta kepada ana sebagai ketua Yayasan Maju Sejahtera, kira-kira gimana pendapat ustadz? Tanya mas Muhsin kepada ustadz Munawwar.

“Alhamdulillah, akan banyak orang yang mau berinfaq kepada yayasan selama yayasan ini berlaku amanah terhadap Harta umat”. Sambut Ustadz Munawwar dengan gembira.

“Ya ustadz, selama ini kami menerapkan pola transafaransi baik kepada pengurus yayasan ataupun kepada pemberi dana. Tidak ada yang kami tutup-tutupi”. Ujar mas muhsin.

“Terima Kasih kalian sudah datang ke rumah saya. Saya sebagai penasihat yayasan sangat gembira. Saya menyarankan, pertama hendaknya uang itu diserahkan ke bendahara. Biar dia yang pegang. Jangan sekali-kali ketua memegang uang. Kalau ketua sudah pegang uang bisa dipastikan akan terjadi fitnah.

Cukuplah dia sebagi kuasa pengelolahan dana yang sudah disepakati penggunaannya.

Kedua, Segera bermusyawarah tentang pengalokasian dana tersebut, lalu buat rencana kerja berdasarkan tupoksi yayasan.

Ketiga, Jangan sekali-kali mengeluarkan dana tanpa sepengetahuan atau musyawarah dengan pengurus lainnya, apalagi untuk kepentingan pribadi.

Ingat itu uang umat. Pertanggung jawabannya dihadapan Allah sangat besar. Bukan uang ketua atau pengurus lainnya. Kapan mau, dia gunakan.

Pengurus dana umat itu seperti pengurus Harta anak yatim. Bagi yang mampu, menahan diri. Bagi yang kurang mampu hendaknya mengambil ala kadarnya.

ۚ وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۖ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا

Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu). (Qs, 4:6)

Alhamdulillah, saya melihat kepengurusan yayasan semuanya orang mampu dan punya penghasilan, sehingga saya sebagai penasihat sangat yakin dana-dana infaq ini akan tersalur sebagaimana mestinya”. Demikian nasihat ustadz Munawwar.

“Ustadz, kami mengucapkan ribuan terima kasih atas nasihatnya. Insya Allah dana-dana umat ini adalah amanah, kami akan kelola sebagaimana mestinya. Kami semua izin pamit, ustadz”. Ucap mas Muhsin sambil menghabiskan sisa tehnya sekaligus berpamitan pulang.

Ya, transparan, keterbukaan dan musyawarah itulah modal utama dalam berorganisasi. Jika itu ada, organisasi akan hidup. Jika ia hilang, organisasi akan dipenuhi kecurigaan dan kerja tidak akan kondusif..

Natar, 13 Agustus 2017.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password