All for Joomla The Word of Web Design

Kapasitas dan Isi Tas

Kapasitas dan Isi Tas
Oleh : KH. Komiruddin Imron, Lc
Sekretaris Dewan Syuro Dewan Dakwah Lampung

KH. Komiruddin Imron, Lc

Penampilan luar kadang menipu. Banyak orang yang terpesona dengan hanya melihat tongkrongan luar saja.

Mobil yang mewah, pakaian yang wah, perhiasan yang melekat di mana-mana kadang membuat orang silau, kagum, hormat dan tekuk muka.

Hal ini sudah menjadi fitrah yang sulit disangkal dan seakan turun temurun sudah menjadi sunah.

Lihatlah betapa sebahagian kaum nabi Musa AS tergakum-kagum dengan Qarun dan hartanya.

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. (QS, 28:79)

Mereka mengira bahwa di sana-lah letak kebahagian dan keberuntungan, letak kesuksesan dan keberhasilan. Tentu hal ini karena mereka hanya melihat dari luar dan tak tahu hakekat yang sebenarnya.

Mereka yang tahu akan hakikat yang sebenarnya tak pernah terpengaruh dengan kemilau Harta dunia.

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar”. (Qs, (28:80)

Saya teringat dengan sebuah ungkapan hikmah yang diajarkan ustadz saya waktu dulu di Tsanawiayah.

ثيابكم يكرمكم قبل الجلوس # وعقلكم يكرمكم بعد الجلوس

Pakaianmu akan menjadikan kamu orang yang dihormati sebelum duduk # sedang akalmu menjajkan kamu dihormati setelah duduk.

Julus disini artinya duduk. Tapi ia juga bermakna mujalasah/ bergaul bersama dan saling kenal.

Maksudnya, sebelum kenal orang akan melihat penampilan luar lalu dia dihormati. Akan tetapi penampilan luar tidak akan terlalu berpengaruh bila orang sudah mengenal isi kepalanya.
Suatu ketika Imam Abu Hanifah berada di tengah muridnya sedang menyampaikan pelajaran.

Ia duduk bersandar di salah satu tiang masjid sambil menjulurkan kakinya. Ini biasa karena ia kenal muridnya satu-persatu.

Tiba-tiba masuklah seseorang yang belum ia kenal dengan penampilan seorang ulama, baju gamis yang bagus, sorban berurai panjang seraya mengucapkan salam.

Imam Abu Hanifah-pun menjawab salamnya sambil membenarkan letak kakinya untuk duduk bersilah.

Setelah orang tersebut duduk ia pun bertanya kepada Imam Abu Hanifah dengan pertanyaan, “Wahai syiekh, jika maghrib telah tiba sementara matahari belum tenggelam, apakah boleh bagi seorang yang sedang berpuasa untuk berbuka”.

Mendengar pertanyaan orang tersebut tahulah Imam Abu Hanifah kadar keilmuannya. Ia-pun berkata :

وليمدد ابو حنيفة رجليه

“Sekarang Abu Hanifah boleh menyelonjorkan kakinya”.
Pada akhirnya penilaian seseorang tetap pada kapasitas. So, jadilah orang yang dihormati karena kapasitasnya, bukan karena isi tasnya.

Natar, 9 Juli 2017

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password