Pada Akhirnya…
August 30, 2017
LAWAN
August 30, 2017

Dana Umat

“Assalamu alaikum, kang Uhen”. Sapa ustadz Munawwar suatu sore setelah sholat Ashar di masjid Aina Tadzhabun

“Wa’alaikum salam…. Eeh ustadz…. Dari mana ustadz? ” Kang Uhen menjawab salam.

“Barusan dari rumah pak Ali. Silaturahmi. Gimana jamaah masjid, rame?” Tanya ustadz Munawwar basa-basi.

“Biasa aja ustadz, masih seperti yang dulu. Enggak ada perkembangan, baik fisik masjid ataupun program” Cerita kang Uhen berat, seperti memendam sesuatu.

“Emang ada masalah? ” Selidik ustadz sambil menatap tajam kang Uhen.

“Ya ustadz. Masalah klasik. Kekurang dana” jawab Kang Uhen singkat.

“Oh itu… Masalahnya. Apa jamaah di sini tidak dimintai sumbangan?. Saya lihat sekitar masjid ini banyak yang mampu”. Tanya ustadz.

“Sebenarnya masalah bukan pada jamaah. Tapi menurut saya pada ketua masjid. Pak Anu sebagai ketua masjid tidak transparan mengelolah dana umat berupa zakat, infaq dan shadaqah. Ini menjadi omongan jamaah.” cerita kang Uhen.

“Tapi itu di papan pengumuman terpampang jelas saldo 60 juta? “. Tanya ustadz.

“Ya, Ustadz.. Itu tulisannya aja. Dikeluarkan kemana dan untuk apa enggak jelas. Jangankan jama’ah, kita sebagai pengurus aja enggak tahu. Karena enggak pernah diajak musyawarah.

Beberapa waktu lalu pak camat memberikan sumbangan 40 juta. Kami pengurus saja yang tahu. Tapi sampai sekarang enggak jelas uang 40 juta itu. Alokasinya enggak pernah dimusyawarahkan. Saya sangat khawatir uang itu dia anggap uang pribadi lalu dikelola dia sendiri.

Mau saya dan pengurus lainnya, diadakan musyawarah. Dijelaskan, nih ada dana sekian. Mau kita apakan. Kan enak kalau begitu…. Engak ada su’u zhan, enggak akan ada fitnah. Intinya transparan. Dan bagusnya, dia jangan pegang uang”. Jelas kang Uhen.

“Ya. Saya paham. Mengapa jamaah malas berinfaq. Sebabnya adalah pengelolahan dana umat yang tidak transparan. Jelas ini akan mengurangi kepercayaan”. Ujar ustadz Munawwar.

“Dana umat itu bukan milik ketua ta’mir. Maka pengalokasiannya harus berdasarkan musyawarah paling tidak mayoritas pengurus.

Sebab masalah uang ini masalah yang sangat sensitif. Bisa menjadi fitnah. Orang yang merasa tertipu sekali saja dalam masalah ini, tidak akan percaya seumur hidup”. Lanjut ustadz Munawwar.

“Jadi, bagaimana sikap kami ustadz? ” tanya Kang Uhen.

“Ya, antum wajib menyampaikan nasihat. Kasihan. Jika tidak, selamanya ia akan begitu. Karena enggak ada yang negur. Harus ada yang berani menyampaikan hal itu. Sebab jika berlarut-larut, jelas orang semakin tidak percaya, selanjut program pasti mandek” Jelas ustadz.

“Terima Kasih ustadz. InsyaAllah nanti Ana sampaikan ke pengurus lainnya” jawab kang Uhen.

“Kalau begitu, saya permisi, mau langsung pulang. Nanti diskusi kita sambung lagi. Assalamu alaikum”

“Waalaikum salam” Jawab kang Uhen, sambil bangkit menghantarkan ustadz Munawar menuju teras masjid.

Ustadz Munawwar tak habis pikir, masih ada pengurus masjid yang bermain-main dengan uang umat. Apa dia tidak takut dosa. Ya, … yang namanya uang selalu menggiurkan dan menggoda. Sudah banyak orang yang terjungkal gara-gara tergiur dengan uang. Di dunia terjungkal, di akhirat kedalam neraka terpental. Na’udzu billahi min dzalik. [<>]

Natar, 8 Agustus 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *