SANDARAN YANG RAPUH DAN SEMU
August 4, 2017

Untuk Pemimpin, Sudahkah Sholat Istikhoroh ?

Oleh : Ust Aep Saripudin (Alumni Pondok pesantren Mahasiswa Daarul Hikmah Binaan Dewan Dakwah Lampung)

Pemimpin di level manapun tentu memiliki aturan umum serta tugas, peran dan fungsi yang harus dijalankan. Yang pada akhirnya semua tugas peran dan fungsi yang dilakulan ada pertanggungjawabannya. Bahkan pada level pemimpin diri sendiri.

Sebagaimana kata Nabi, dalam Sahih al-Bukhori:4789

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ, قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ. فَالإمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ, وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ, وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ, وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ. أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ

Dari Abdullah, ia berkata: Nabi saw. bersabda:

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawabannya. Maka seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggung jawabannya. Dan seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggung jawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungj awabannya

Mungkin akan banyak sekali tugas, peran dan fungsi yang harus dilakulan seorang Pemimpin. Akan Tetapi ada satu tugas besar yang harus dilakukan seorang Pemimpin adalah membuat keputusan. Kelihatannya sederhana, karena memang itulah tugas pemimpin. Akan Tetapi jika seorang Pemimpin salah dalam membuat keputusan akan berakibat secara langsung maupun tidak langsung baik kepada dirinya maupun orang lain sesuai dengan level kepemimpinannya. Namun demikian apapun putusan seorang Pemimpin “tidak pernah salah”, selama putusan itu bukanlah sebuah kemaksiatan.

Sebagaimana kata Nabi, dari ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ.
“Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala”.[HR BUKHORI]

Artinya putusan seorang pemimpin “selalu” benar walaupun hanya mendapatkan pahala satu. Tentu Pemimpin yang baik menginginkan mendapatkan pahala dua dalam membuat keputusan. Bagaimana caranya? paling tidak ada 4 hal yang harus dilakukan seorang Pemimpin pada saat akan mengambil keputusan.

1)Meminta Pendapat

Semakin banyak yang diminta pendapatnya tentu akan semakin baik. Dalam era milenial hari ini tentu jauh lebih mudah meminta pendapat ke berbagai segmen lapisan masyarakat. Jajak Pendapat dan survey ke internal organisasi maupun ekternal organisasi sepertinya menjadi eranya saat ini.

2)Berkonsultasi Dengan Atasan

Siapapun kita pasti memiliki atasan dalam level apapun. Seorang kepala keluarga yang akan membuat keputusan kemana pendidikan sekolah anaknya selanjutnya, tentu akan lebih baik berkonsultasi dengan atasannya yaitu orang tua dan mertuanya. Seorang Ketua Umum Organisasi berkonsultasi dengan struktur diatasnya. Dan Atasan kita yang terbaik adalah Allah SWT tempat kita Berkonsultasi dalam Do’a.

3)Bermusyawarah

Bermusyawarah adalah perintah Allah, dalam surah Ali Imron ayat 159,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Seorang suami Bermusyawarah dengan istrinya. Seorang Ketua Umum organisasi Bermusyawarah dengan pengurus harian dan Ketua bidangnya. Seorang kepala daerah bermusyawarah dengan kepala satkernya.

4)Visi Seorang Pemimpin

Pemimpin yang baik tentu harus memiliki visi yang muncul dari dalam dirinya untuk kebaikan organisasi maupun masyarakat yang dipimpinnya. Seorang suami memiliki visi Untuk kebaikan keluarganya. Seorang Ketua Umum memiliki visi untuk kebaikan organisasinya. Seorang kepala daerah atau kepala negara memiliki visi utk kebaikan Daerah atau Negara yang dipimpinnya.

Demi mewujudkan visinya, seorang Pemimpin akan mengambil keputusan sesuai dengan visinya. Tentu akan ada subyektifitas pribadi seorang pemimpin bahkan di dalamnya ada interest pribadi bahkan hawa nafsu pribadi.

Untuk menghindari sikap subyektifitas, interest, dan hawa nafsu pribadi seorang Pemimpin, layaklah menjalankan sunnah Nabi.

Sebagaimana disampaikan Nabi, dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita ; ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan istikharah kepada kami dalam (segala) urusan, sebagaimana beliau mengajari kami surat dari Al-Qur’an. Beliau bersabda.

إِذَ هَمَّ أَحَدُ كُمْ بِاْلأَمْرِ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيْضَةِ، ثُمَّ لْيَقُلْ : اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ (ا َوْ قَالَ: عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ) فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ (أَوْ قَالَ: فِيْ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ) فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ قَالَ : وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ

“Jika salah seorang di antara kalian berkeinginan keras untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua rakaat di luar shalat wajib, dan hendaklah dia mengucapkan : (‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk kepada-Mu dengan ilmu-Mu, memohon ketetapan dengan kekuasan-Mu, dan aku memohon karunia-Mu yang sangat agung, karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedang aku tidak kuasa sama sekali, Engkau mengetahui sedang aku tidak, dan Engkau Mahamengetahui segala yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (kemudian menyebutkan langsung urusan yang dimaksud) lebih baik bagi diriku dalam agama, kehidupan, dan akhir urusanku” –atau mengucapkan : “Baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang-, maka tetapkanlah ia bagiku dan mudahkanlah ia untukku. Kemudian berikan berkah kepadaku dalam menjalankannya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam agama, kehidupan dan akhir urusanku” –atau mengucapkan: “Baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang-, maka jauhkanlah urusan itu dariku dan jauhkan aku darinya, serta tetapkanlah yang baik itu bagiku di mana pun kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku orang yang ridha dengan ketetapan tersebut), Beliau bersabda : “Hendaklah dia menyebutkan keperluannya” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

Dengan keihklasannya seorang Pemimpin menyerahkan sepenuhnya kepada Allah atas putusan yang akan diambil. Jika ada kebimbangan diantara 2 pilihan, Meminta kepada Allah 1 pilihan terbaik yang akan diputuskannya.

Empat hal di atas adalah tantangan sekaligus seni dalam memimpin. Lebih dari itu adalah cara menghindari dosa bagi seorang Pemimpin dalam mengambil keputusan.

Semoga setiap kita dijaga dalam mengambil keputusan. Sebagai mana Allah katakan dalam surah Al Ahzab ayat 5,

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ
“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu”.

Semoga tidak ada dosa dalam setiap keputusan kita. Cukuplah pahala 1, atau mudah-mudahan pahala 2. Jangan lupa Sholat Istiqoroh.

Wallahu ‘Alam Bishowab.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *