MENINGKATKAN KUALITAS DIRI MELALUI SHALAT
July 14, 2017
Untuk Pemimpin, Sudahkah Sholat Istikhoroh ?
August 4, 2017

SANDARAN YANG RAPUH DAN SEMU

Oleh : Ustadz Fir'adi (Dosen ADI Dewan Dakwah Metro)

 

» وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا «

“Dan barangsiapa yang bersandar kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 3).

Saudaraku,
Alhamdulillah, kita lantunkan kata pujian dan syukur ke hadirat Allah s.w.t, yang menghimpun kita kembali di majlis agung ini, setelah kita tak bersua selama kurang lebih dua bulan, karena berbagai hal yang sulit dilewatkan.

Sedisi ini kita akan menguraikan tentang sandaran rapuh dan ketergantungan yang membelenggu, yang terkadang kita terjebak di dalamnya. Sehingga nilai penghambaan diri memudar dan ketergelinciran yang mengikat diri kita.

Saudaraku,
Dalam karyanya “Hakadza ‘allamtnil hayat”, DR. Mustafa Siba’i, seorang da’i dari Suria pernah mengingatkan kita tentang persoalan sandaran yang rapuh ini dengan ucapannya,

Siapa yang menyandarkan hatinya kepada dunia, maka ia tak akan pernah dapat mengecap kelezatan khalwah (berdua-duan) dengan Allah s.w.t.

Siapa yang menautkan hatinya pada pesona dunia, maka ia tak pernah bisa merasakan manisnya berinteraksi dengan kalam Allah (al-Qur’an).

Siapa yang mendekatkan hatinya pada kekuasaan, maka ia tak akan pernah meraih indahnya tawadhu’ di hadapan Allah.

Siapa yang memiliki ketergantungan pada harta, maka ia tak bisa menggapai sejuknya berderma di jalan Allah.

Siapa yang membiarkan hatinya terseret tenggelam mengikuti derasnya arus syahwat, maka ia tak pernah mampu merasakan keindahan ma’rifatullah.

Siapa yang membiarkan hatinya terikat dengan istri dan anak, maka ia tak pernah dapat meraih manisnya berjuang di jalan Allah.

Dan siapa yang menyuburkan angan-angan panjang di hatinya, maka ia tak akan pernah merasakan kerinduan terhadap surga.”

Saudaraku,
Ternyata inilah jawaban atas kegalauan hati dan keresahan jiwa kita:
Mengapa kita tak pernah khusyu’ dalam berkhalwat ketika kita shalat menghadap-Nya. Shalat yang kita lakukan hanya sekadar gerakan fisik dan rutinitas zahir semata dari amalan takbir, ruku’ dan sujud yang diakhiri dengan salam. Tanpa makna dan isi. Tanpa menghadirkan hati dan ikatan bathin.

Mengapa al-Qur’an yang kita baca terasa hambar tak membekas di hati, jauh dari kata tadabbur. Dan bahkan bayangan sms, facebook dan WA serta chattingan dari rekan-rekan DUMAY lebih menggugah hati. Pertandingan Derby antara MU dan ManCity atau duel El Classico antara Real Madrid versus Barcelona lebih menghibur dan dinanti.

Mengapa kita beramal, mengharap ada orang yang menyaksikan dan memperdengarkan amal baik kita, lalu kita bangga jika manusia membicarakan kebaikan kita. Tampil di Televisi dan menjadi berita utama di media massa menjadi buruan, agar kita semakin dikenal public dan dielu-elukan masyarakat yang telah buta mata hatinya.

Mengapa hati kita teramat berat merogoh kocek kita untuk berinfaq di jalan-Nya walau hanya lima ribu rupiah sehari. Tapi ratusan ribu saat belanja di supermarket dan mall-mall kesohor justru menjadi kebanggaan tanpa ada rasa penyesalan.

Dan mengapa hati kita begitu sulit menghadirkan perasaan selalu diawasi Allah (muraqabatullah). Bahkan kita tertawa lepas penuh kemenangan ketika mampu mencuri dosa dan maksiat tanpa tertangkap kamera dan CCTV orang lain.

Dan mengapa kita belum mampu menjadikan anak dan istri kita sebagai sumber inspirasi perjuangan kita dalam hidup. Kita menjadi angin-anginan dalam berjuang. Saat ada maslahat, kita berada di barisan terdepan. Namun bila maslahat menjauh, kita pun menghilang dari ladang perjuangan.

Serta mengapa kita belum mampu menghadirkan wajah bidadari bermata jeli di surga. Panggilan Mardhiyah dari surga tak terdengar di telinga kita. Dan justru rintihan dan panggilan manja Mardhiyah tetangga desa yang siap menjadi madu teramat jelas terdengar di telinga.

Saudaraku,
Hanya ada satu jalan untuk bangkit dari keterpurukan ini. Kita putus segala ikatan ketergantungan dan dinding sandaran itu. Dan kita memulai hidup baru dengan hanya bersandar dan bergantung kepada Allah semata. Dzat Yang Mahakuat dan Mahakuasa.

Benarlah kata orang bijak, “Ketergantungan itu membelenggu.”

Ya Rabb, kami beristighfar dan bertaubat kepada-Mu. Ampuni kesalahan, kekuarangan dan kekeliruan yang pernah kami perbuat. Amien.

Metro, 03 Agustus 2017
Fir’adi Abu Ja’far

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *