MENINGKATKAN KUALITAS DIRI MELALUI SHALAT
July 14, 2017
Muslimat Dewan Dakwah bersama Penderita Kanker Payudara
August 8, 2017

“Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”

Oleh : ustadzah Yeni Widarsih (Muslimah Dewan Dakwah)

“Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”

Sepotong ayat yang terdapat dalam Surat Al Fatihah.

Berapa kalikah Surat Al Fatihah kita baca dalam sehari semalam…?

Seorang muslim yang baik akan menjawab 17 kali. Itu minimal….

Mengapa Allah mewajibkan kita membacanya sebanyak itu sehari semalam?

Mengapa Allah menjadikan surat itu sebagai sesuatu yang penting?

Ada apa dengan Al Fatihah?

Kembali ke penggalan ayat di atas. Ayat yang ke-5 dalam Al Fatihah.

Setelah di ayat 1-4 Allah memperkenalkan dirinya sebagai Ar Rahman (maha pengasih), Ar Rohiim (maha penyayang), Rabb Al’Aamiin (pemelihara semesta alam), Maaliki yaumiddiin (penguasa hari pembalasan), maka Allah meminta kita untuk menyerahkan diri kepadaNya.

‘Iyyaaka na’budu (hanya kepada Engkaulah kami menyembah). Allah sendiri yang mengajarkan kita kata-kata penyerahan diri itu. Kata-kata yang mewajibkan kita agar hanya mengambil sesembahan berupa ilah (tuhan) yang mempunyai sifat-sifat di atas tadi. Bukan ilah-ilah yang lain.

Tidak hanya sampai di situ. Ketika Allah mewajibkan kita untuk menyembahNya, maka Allah juga berikan reward-nya, yaitu di potongan ayat itu juga.

‘Iyyaaka nasta’iin’ (hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan). Allah tidak hanya menyuruh kita menyembahNya, tapi Allah juga menyuruh kita meminta kepadaNya.

Subhanallah….

Jika kita seorang manusia yang merasa lebih tinggi, lebih hebat, lebih berjasa dari manusia lainnya; lalu kita menyuruh manusia untuk menyembah diri kita; relakah kita memberi harta kekayaan yang berlimpah, kenikmatan hidup, kejayaan kepada manusia yang menyembah kita?

Tidak akan pernah….

Ketika manusia menyuruh manusia lain untuk menyembah dirinya, maka tiranilah yang muncul. Penindasan, pemerkosaan hak-hak, kesewenangan, dan kehidupan yang sulit; itulah yang justru akan terjadi.

Karena sejatinya memang tidak ada manusia yang patut disembah, sekalipun ia seorang yang berkuasa.

Ber-ilah hanya kepada Allah. Yang bahkan rela menjadikan diriNya sebagai tempat meminta para hamba-hambaNya. Karena Allah tidak merasa takut miskin jika kita terus-menerus meminta padaNya. Allah Maha Kaya.

Tapi entah mengapa, masih banyak manusia yang mengambil ilah-ilah lainnya, tanpa disadari, atau bahkan dengan sengaja. Kemanakah kesadaran kita terhadap ayat ke-5 Surat Al Fatihah yang minimal 17 kali kita ucapkan setiap harinya?

Mari, kita kembali, hanya bertuhan kepada yang satu, Allahu ahad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *