ADA APA DENGAN  SHALAT JAMA’AH  KITA
July 21, 2017
Pemuda Dewan Dakwah Hadiri Halal bihalal Ormas Pemuda Islam 2017
July 28, 2017

MENANGKAP PELUANG PERUBAHAN

MENANGKAP PELUANG PERUBAHAN

Menarik bila kita mengikuti fenomena perkembangan dakwah di era milennia saat ini. Hanya dengan menggunakan sarana sosial media baik itu facebook, youtube, instagram dan lain sebagainya, masyarakat dapat dengan mudah mengakses berbagai kajian ilmu dari para pendakwah.

Para pendakwah tersebut, sebut saja ust Abdul Somad, Khalid Basalamah, Felix Siauw, Adi Hidayat, Salim A Fillah, Oemar Mita dan masih banyak yang lainnya, kian mendapatkan ribuan bahkan jutaan simpati dari masyarakat.
Ini dapat kita lihat dengan banyaknya jumlah likers dan viewers yang menonton video mereka. Dan yang lebih luar biasa lagi. ketika para pendakwah ini diundang untuk mengisi kajian di daerah lain, Subhanallah, antusiasme masyarakat yang hadir di kajian tersebut melebihi kapasitas tempat yang disediakan.

Cara penyampaian yang moderat dan bijak, diimbangi dengan pengetahuan yang mumpuni serta optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi, nampaknya tiga hal inilah yang membuat masyarakat, khususnya yang tinggal di perkotaan, sangat nyaman dalam mengikuti setiap kajian mereka.

Bila dikorelasikan dengan teori ekonomi dan bisnis, bahwa produk yang dijual harus memenuhi ekspektasi dan benar-benar dibutuhkan konsumen.
Strategi dan metode dakwah yang diterapkan oleh para ustadz diatas sangat klop dengan apa yang diminati dan dibutuhkan oleh objek dakwah, atau bisa dikatakan juga, para pendakwah tersebut sangat memahami bahwa zaman sudah berubah, dan perubahanan tersebut pasti berdampak pula dengan pola pikir manusia yang hidup di zaman tersebut.
Sehingga cara paling efektif agar pesan kebaikan tetap tersampaikan, maka metode penyampainya harus mampu beradaptasi dan menyesuaikan dengan trend zaman yang ada.

(Mengutip dari beberapa artikel )
Dewasa kita sering mendengar, membaca tentang teori Gen X , Y dan seterusnya.
Gen X adalah generasi yang lahir pada rentang kelahiran 1980 kebawah, untuk Gen Y mereka lahir pada rentang 1980 s.d 2000, sedangkan untuk Gen Z adalah generasi yang lahir di atas tahun 2000an.

Khusus Gen Y, mereka adalah generasi milennial, tergolong sebagai pemakai media sosial yang fanatik dan kehidupannya sangat terpengaruh dengan perkembangan teknologi.

Gen Y pun menjadi seseorang dengan pikiran lebih terbuka dan luas meskipun umurnya masih tergolong sangat belia. Mereka akan menghargai dan mengidolakan orang bukan karena faktor usia, namun lebih pada faktor prestasi dan kontribusi.

Kaum millennial sangat terbuka dengan pandangan politik dan ekonominya, sehingga mereka terlihat sangat reaktif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekelilingnya.

Melihat fenomena diatas, kami mencoba mengambil pelajaran penting.
Dari perenungan mendalam, kamipun menemukan kalimat yang harapannya mampu menjadi acuan dan pemantapan seorang Da'i dalam beradaptasi dan menghadapi perubahan zaman dan trend yang ada.

” Perubahan bukan dihindari, namun dihadapi ”

Sebagai seorang yang selalu ingin konsisten dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan, para Da'i harus mampu beradaptasi dengan perubahan.
Produk kebaikan yang kita tawarkan hendaknya sangat memperhatikan profil dari objek dakwah itu sendiri.

Menurut data yang sering disajikan dan diperbincangkan, antara tahun 2020 – 2025, Indonesia akan memperoleh bonus demografi, dimana populasi kaum muda (Gen Y) dan (Gen Z) jumlahnya mengalahkan kaum tua (Gen X).
Ini adalah Sunahtullah yang harus hadapi dan disiasati.

Tentu kita semua menginginkan agar peluang bonus demografi ini mampu kita manfaatkan sebaik-baiknya, sehingga sebagian besar populasinya kedepan masuk ke gerbong para pejuang kebaikan.

Saat ini PR nya ada pada kita para Da'i, ketika melihat peluang ini, kerja seperti apa yang akan dan mampu kita kobtribusikan.

Kemampuan membaca trend, beradaptasi dengan perubahan, serta menangkap peluang dari perubahan yang ada, merupakan modal dasar untuk berhasil menyebarluaskan produk kebaikan ini kepada masyarakat.

Tentu kita tidak musti mengikuti pola yang digunakan para pendakwah yang kami singgung diatas.
Karena sejatinya lahan dakwah ini begitu luas terbentang, metodenya pun bisa beragam
Mari kita menyebar keseluruh lapisan masyarakat yang ada.
Bila membaca trend sekarang, objek dakwah kita saat ini ada di sekolah-sekolah kampus-kampus, kantor-kantor, perempatan jalan, pos ronda, kafe dan tempat tongkrongan malam.
Mari berbagi tugas, bahu membahu dengan sesama Da’i yang lain, apapun latarbelakang fikroh dan jamaahnya.

Permasalahan kita begitu kompleks, sehingga tidak ada waktu untuk memperdebatkan hal-hal yang memang sejak dahulu menjadi perdebatan.
Saatnya kita saling bekerjasama dalam persamaan, dan berlapang dada atas beberapa perbedaan pandangan.

Tidak ada barang yang tidak Laku
yang ada adalah barang yang di pasarkan dengan cara yang salah
(pandji pragiwaksono)

Kebaikan tidak akan ditolak bila disampaikan dengan cara dan waktu yang tepat

 

Kemiling, 21 Juli 2017
Fastabiqul khairat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *