HUKUM KHALWAT DALAM ISLAM
July 21, 2017
ADA APA DENGAN  SHALAT JAMA’AH  KITA
July 21, 2017

 AGAMA DAN POLITIK

 AGAMA DAN POLITIK

Menurut DR. Mohammad Natsir

Seringkali orang bertanya, kenapakah agama di-bawa-bawa kedalam politik. Atau sebaliknya, kenapakah politik dibawa-bawa kedalam agama? Dan

sering timbul pertanyaan, bagaimana dapat satu partai politik didasarkan  kepada agama, seperti halnya dengan partai politik Islam „Masyumi” umpamanya Pertanyaan ini timbul oleh sebab seringkali orang mengartikan bahwa yang dinamakan agama itu, hanyalah semata-mata satu sistem peribadatan antara makhluk dengan Tuhan yang Maha Kuasa. Definisi ini mungkin tepat bagi ber-macam2 agama. Akan tetapi tidak tepat bagi agama yang bernama Islam itu, yang hakikatnya nyata adalah lebih dari itu.

Kalau kita meminjam perkataan seorang orientalist, H.R. G’tbb,

maka kita dapat simpulkan dalam satu kalimat :

Islam is much more than a religious system. It is a complete civilization”.

“Islam itu adalah lebih dari sistem” peribadatan adalah satu kebudayaan yang lengkap sempurna !”

Malah lebih dari itu ! Islam adalah satu falsafah hidup, satu levensfilosofie, satu ideologi, satu sistem peri kehidupan, untuk kemenangan

manusia sekarang dan diakhirat nanti. Ideologi ini mendjadi pedoman bagi kita sebagai Muslim, dan buat itu kita hidup dan buat itu kita mati.

Oleh karena itu bagi kita sebagai Muslim, kita tidak dapat melepaskan

diri dari politik. Dan sebagai orang berpolitik, kita tak dapat melepaskan

diri dari ideologi kita, yakni ideologi Islam. Bagi kita, menegakkan Islam

itu tak dapat dilepaskan dari menegakkan masyarakat, menegakkan Negara, menegakkan Kemerdekaan.

Islam dan pendjadjahan adalah paradox, satu pertentangan jang tak

ada persesuaian didalamnja. Dengan sendirinya seorang Muslim, seorang yang berideologi Islam, tak akan dapat menerima penjajahan apa pun. Memperjuangkan kemerdekaan bagi kita, bukan semata2 lantaran didorong

oleh aspirasi nasionalisme atau kebangsaan, akan tetapi, pada hakikatnya, adalah karena kewajiban yang tak dapat dielakkan oleh setiap Muslim yang mukallaf.

Maka dapat dimengerti bahwa didalam sedjarah negeri kita Indonesia, dalam menentang penjajahan dan kolonialisme, kaum Muslimin dari abad keabad, tampil kedepan dengan semangat pengurbanan yang menyala2. Seperti Pemberontakan Imam Bonjol, Diponegoro dan lainnya. Pendekar Muslim Indonesia, menjadi sumber inspirasi bagi bangsa kita, dan keturunan selanjutnya. Bukan  kita hendak berbangga dengan jasa2 mereka, yang sudah

dahulu dari kita itu. Mereka sudah lewat dan mereka telah memetik buah dari apa jang mereka perbuat dan perjuangkan.

Kita kemukakan itu sebagai peringatan, bahwa dimana si lemah perlu dibela, dimana si tertindas harus dilepaskan dari tekanan dan ketakutan, maka golongan Islam tampil kemuka membela hak dan kebenaran Agamanya, ideologinya dan haram baginya berpeluk tangan. Kita tak hendak bermegah dengan perbuatan orang2 kita yang telah dahulu dari kita. Tetapi revolusi yang meletus di Tanah Air kita semenjak

empat tahun jang lalu, cukup memberi ukuran bagi kita, dan umat Islam yang sekarang ini telah berhasil membuktikan, bahwa ruh Islamnya itu  tidaklah mati. bahkan ia adalah merupakan sumber jang tak kundjung kering, pendorong jang mahahebat dalam perjuangan menentang penjajahan. Sejarah menjadi saksi bahwa umat Islam Indonesia, tidaklah terbelakang dari saudara-saudaranya golongan lain. Ia bahu-membahu, berkurban dan berjihad dalam pelbagai lapangan dengan tujuan jang satu. Melepaskan Negara dari penjajahan, lahir dan batin, menegakkan dan mengisi kedaulatan atas seluruh kepulauan Tanah Air”.

Maka Masyumi dalam pergolakan jang menggelora itu adalah saluran

dari kewajiban berat bagi umat Islam Indonesia dilapangan politik.

Dalam persimpang-siuran bermacam aliran yang ada, kita bersedia mencari dasar persamaan dalam hal-hal yang dapat didjalankan bersama-sama,

berjalan atas dasar kalimatin sawa-in bahana wabalnakum” (QSAli Imran: 64).

Tak ada paedahnya bagi kita menghabiskan waktu dengan rasa gusar

kesal, bilamana berdjumpa dengan perlawanan paham atau ideologi. Maka

dengan kepala dingin dan djiwa jang besar, seorang Muslim, sewaktu-waktu harus  pandai menempatkan dirinya pada pendirian yang tentu, dengan mengambil sikap : Qul i’malu ‘ala makanatikum inni ‘amil, “Berjuanglah kamu atas tempat dan dasar keyakinanmu, sesungguhnya akupun adalah seorang pejuang pula”. (QS. Al-An ‘am: 135).

Dalam pada itu kita menggariskan jalan dalam masyarakat dengan tenang, tapi tegas dan positif, selaras dengan khithah Rasulullah SAW dalam membawa tugasnya : Katakanlah, Inilah jalanku. Aku ajak kepada jalan Allah dengan bukti-bukti, aku dan pengikut-pengikutku.  Mahasuci Tuhan, dan aku bukanlah

termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan” (Q.s. yusuf: 108).

 

4 Februari  Tahun 1950, Mohammad Natsir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *