HUKUM KHALWAT DALAM ISLAM
July 21, 2017

KEADILAN ALLAH SWT

KEADILAN ALLAH SWT

Hidup yang kita jalani akan selalu dihadapkan dengan pilihan demi pilihan. Setiap pilihan yang kita ambil tentu saja memiliki konsekuensi.

Sungguh Dialah Allah, Rabb Yang Maha Melihat segala prilaku hamba-hambaNya,
Dialah Allah, Rabb Yang Maha Mengadili segala prilaku hamba-hambaNya
Sebagai seorang hamba, tentu kita sangat memahami, bahwa segala tindak tanduk kita di dunia kelak akan dinilai di SisiNya.
Apabila lebih dominan kebaikan yang kita kerjakan, maka Allah telak menyiapkan balasan berupa Surga dengan segala kenikmatannya.
Sebaliknya manakala lebih dominan keburukan yang kita kerjakan, maka Allah telah menyiapkan hukuman berupa Neraka dengan segala siksaanya

Allah berfirman dalam surat Az Zalzalah ayat 7 s.d 8 :
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”

Ayat diatas bila ditadaburi, harusnya akan memberikan ketenangan kepada setiap hamba. Betapa Allah telah menjamin keadilan dari setiap perbuatan yang kita kerjakan.
Tidak ada satu perbuatan pun yang luput dari penglihatan Allah SWT. Semuanya tercatat rapih, dan kelak akan diberikan kompensasi sesuai nilai dan takarannya
Tentu tidak semua kompensasi Allah balas di akhirat, sebagian ada yang langsung di berikan di dunia, hal tersebut sebagai sarana pengingat dan untuk di jadikan hikmah bagi setiap hamba.
Memang terkadang sebagai manusia, kita kurang sabar dalam menanti dan memahami keadilan Allah SWT.

Contoh sederhana, kadang bila kita meihat sebuah kejadian yang menurut kacamata manusia kita adalah sebuah ketidakadilan Sang Pencipta, terlebih lagi bila kita sendiri mengalami dan menerima takdir berupa kehilangan sesuatu, dan sebagainya, maka kadangkala sikap sabar dan introspeksi diri seringkali dikalahkah dengan prasangka buruk kepada Allah SWT.
Kita lupa bahwa setiap kejadian pastilah ada sebab dan akibat. Tinggal intropeksi yang perlu kita kedepankan, apakah ini ujian atau teguran

Dallam memahami Keadilan Allah SWT, hal inipun dirasakan dan dialami oleh Nabi Musa a.s
Dikisahkan, Nabi Musa as. Pernah bermunajat kepada tuhannya di atas bukit Thur. Dalam munajat beliau berkata, “Tuhanku, perlihatkan kepadaku keadilanMU. “Allah menjawab, “Engkau laki-laki yang tangkas, cekatan dan pemberani, tetapi tidak akan mampu bersabar untuk memahami keadilanKu .”
“ Insya Allah Saya mampu bersabar dengan taufikMu, ” jawab musa as. Kemudian Allah berfirman ” pergilah menuju mata air disuatu tempat , lalu bersembunyilah di baliknya dan perhatikan apa yang akan terjadi, disitu kamu akan melihat apa yang kau inginkan , ”

Musa as. Berjalan dan mendaki anak bukit di balik mata air itu, lalu duduk bersembunyi. Tidak berapa lama datang seorang penunggang kuda di mata air itu , lalu ia turun dari kudanya dan berwuduk serta minum air dari mata air itu. Ia membuka buntalanya yg di dalamnya terdapat kantong yg berisi uang 1000 dinar, lalu meletakannya di sampingnya lalu sholat. Kemudian laki2 itu kembali menaiki kuda dan ia lupa kantongnya.

Tidak lama kemudian , datang seorang anak kecil ,lalu meminum air dari mata air itu dan pergi sambil mengambil kantong uang yg ditemukan ditempat itu . Setelah anak kecil itu pergi , datanglah seorang laki-laki tua buta. Ia minum dari mata air itu, berwuduk dan berhenti sejenak untuk sholat,setelah sholat, ia duduk santai melepas lelah. Bersama dengan itu, laki-laki penunggang kuda yang datang pertama tadi teringat dengan kantong uangnya. Ia kembali dari perjalanannya dan segera menuju sumber mata air itu , namun ia tidak menemukan kantong uangnya. Ia hanya melihat laki laki buta itu yang sedang duduk beristirahat .

Pikirannya mencurigai laki-laki tua tersebut . : “Saya kehilangan kantong yg berisi 1000 dinar di tempat ini. Tidak ada orang yg datang ke tempat ini selain kamu.” tuduh penunggang kuda itu . ” kamu tau saya laki-laki buta, maka bagaimana mungkin saya bisa melihat dan mengambil kantongmu?” jawab laki-laki yang buta itu .

Penunggang kuda itu marah atas ucapan laki-laki tua tersebut . Ia mencabut pedang dan menghantamkannya pada laki-laki malang itu sampai tewas . Ia memeriksa mayat laki-laki tua itu dan kantong yang di carinya tidak ditemukan ia pun pergi dan meninggalkan mayat pria malang itu dengan wajah kesal. .

Menyaksikan peristiwa tragis tersebut Musa as. merasa jengkel dan hilang kesabarannya . Ia berkata, “Tuhanku dan junjunganku, kesabaranku benar-benar habis dan Engkau benar-benar Dzat yg Maha Adil, maka berilah saya pengetahuan dan penjelasan bagaimana semua ini bisa terjadi ?”
Allah memerintahkan Jibril untuk memberikan penjelasan . Jibril as. berkata kepada Musa as. ” Hai Musa as. Allah swt. Berfirman: Aku mengetahui semua rahasia dan lebih mengetahui dari pada yang kamu ketahui. Adapun anak kecil yg mengambil kantong uang tersebut, sebenarnya ia hanya mengambil hak miliknya sendiri. Karena orang tua anak kecil tersebut adalah orang upahan laki-laki penunggang kuda itu . Upah yg harus diterimanya terkumpul dalam jumlah uang yang terdapat didalam kantong yg di bawa laki-laki penunggang kuda itu dan upah tersebut belum terbayar. Anak itu hanya mengambil haknya.

Adapun laki-laki tua yg buta itu , adalah orang yang telah membunuh ayah dari penunggang kuda tersebut ketika ia belum buta . Allah telah mengambil hukum Qishash dan menyampaikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya. Keadilan kami (Allah) sangat lembut.” setelah Musa as. Mengetahui hal tersebut, Ia bingung dan mohon ampun kepadaNya.

Demikianlah hikmah yang tersembunyi dibalik berbagai kejadian yang sering kita lihat sehari hari yang kadang kala kita rasakan tidak adil . Pandangan dan penglihatan kita amat terbatas sementara Allah memiliki penglihatan dan pengetahuan yang tidak terbatas

Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang pandai dalam mengambil hikmah dari setiap kejadian.

Kemiling, 14 Juli 2017
Fastabiqul khairat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *