Kisah Perjalanan Da’wah Mahasiswa STID Mohammad Natsir Dipedalaman Sintang
July 14, 2017
AYOOO!!! QURBAN KE DESA…
July 17, 2017

Da’i Dewan Da’wah : Meretas Da’wah di Pesisir Sulawesi Utara

Da'i Dewan Dakwah Bersama Masyarakat Pesisir Sulawesi Utara

Desa Jiko adalah sebuah desa yang terletak di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Desa ini berada di sebuah bukit yang menjulang di tepi pantai. Penduduknya sangat beragam, dihuni oleh berbagai suku, diantaranya suku Mongondow yang merupakan penduduk asli. Ada juga suku Sanger, suku Bugis, dan suku Minahasa yang merupakan suku pendatang. Suku Mongondow, sebagai suku asli setempat, mayoritas beragama Islam, namun setelah masuknya berbagai suku tadi, terutama suku Sanger yang beragama non muslim, maka saat ini agama yang mendominasi di Desa Jiko adalah agama Kristen. Hal ini terlihat jelas dari prosentase penduduk. Secara keseluruhan, jumlah penduduk Desa Jiko lebih dari 300 Kepala Keluarga (KK), namun hanya 15 KK yang beragama Islam, yang sebagian besar dari mereka adalah muallaf. Sementara sebagian besar penduduk lainnya beragama Kristen Katolik dan Protestan.

Keadaan perekonomian penduduk Desa Jiko masih rendah. Mata pencaharian sehari-hari mereka hanya bergantung kepada laut dan kebun kelapa. Sebagian besar penduduk adalah nelayan yang pendapatannya tergantung kepada banyak dan sedikitnya ikan yang didapat.

Di bidang sarana pendidikan, desa ini hanya memiliki dua Sekolah Negeri, masing-masing adalah Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mayoritas murid-muridnya tentu saja beragama Kristen, hanya 11 orang murid yang beragama Islam dari dua sekolah itu. Pelajaran agama yang disediakan di dua sekolah ini hanya pelajaran agama Kristen saja, sedangkan pelajaran agama Islam belum ada, karena memang tidak ada guru agama Islam.  Karena hanya  ada dua tingkat sekolah itu lah anak-anak Desa Jiko hanya bisa mengenyam pendidikan hingga tingkat menengah saja. Jika mereka ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya, mereka harus bersekolah di sekolah kota kecamatan yang jaraknya lumayan jauh.

Pemahaman keagamaan masyarakat muslim di Desa Jiko sangat kurang. Hal ini disebabkan karena tidak adanya da’i yang membina mereka secara intensif. Di Desa Jiko hanya terdapat satu masjid yang diberi nama Masjid Ihya’ Ulumuddin, masjid ini dibangun tahun 2005 atas bantuan dari Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Walaupun bentuknya masih sederhana namun masjid ini adalah satu-satunya sentral ibadah umat Islam di sana. Tapi kendalanya, masjid ini terletak jauh dari kebanyakan pemukiman penduduk muslim. Jarak antara pemukiman penduduk muslim dengan masjid sekitar 1,5 hingga 2 KM. Sementara penduduk muslim yang tinggal di sekitar masjid hanya 3 KK saja. Karena itu sebagian besar masyarakat muslim lebih memilih untuk melaksanakan shalat di rumah mereka masing-masing, kecuali shalat Jum’at. Sebab untuk menuju ke masjid mereka harus berjalan kaki di bawah cuaca terik yang amat panas. Cuaca sehari-hari di Desa Jiko memang sangat panas. Keadaan masjidnya sendiri  masih belum memadai. Sampai sekarang masjid ini belum memiliki tempat wudhu, toilet, serambi depan, pagar di sekeliling dan berbagai perlengkapan masjid lainnya.

Masjid ini sejak dulu tidak memiliki seorang imam untuk memimpin shalat, menjadi khatib Jum’at, khatib ‘Idul Fitri dan khatib ‘Idul Adha. Jadi sebelumnya masyarakat harus menempuh perjalanan puluhan kilo ke desa-desa lain untuk melaksanakan shalat Jum’at, shalat ‘Idul Fitri dan shalat ‘Idul Adha. Keadaan ini disebabkan karena belum ada di antara penduduk muslim setempat yang mampu untuk  menjadi imam dan khatib, sebab ilmu agama mereka masih sangat minim.

Di sisi lain perkembangan gereja sangat pesat. Saat ini masjid yang hanya satu buah itu harus berhadapan dengan lima buah gereja yang terus mengalami perkembangan. Gereja-gereja itu memiliki fasilitas yang jauh lebih lengkap dibandingkan fasilitas yang dimiliki masjid. Gereja-gereja itu juga memiliki pengurus yang aktif sehingga kegiatannya pun berjalan baik.

Berubah Karena Da’wah

Ke desa dengan kondisi seperti inilah Ustadz Mundzir Abdurrahman, da’i muda Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, ditugaskan. Kehadiran da’i alumni Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir ini membuat banyak perubahan di desa ini. Yang paling terasa adalah perubahan suasana masjid Ihya` Ulumuddin yang awalnya sunyi dari kegiatan kini ramai dengan berbagai macam kegiatan, baik kegiatan ibadah, kegiatan pendidikan maupun kegiatan sosial.

Pelaksanaan shalat lima waktu rutin dilaksanakan, karena itu kumandang adzan terdengar tiap waktu. Shalat Jum’at dan shalat ‘Idul Fithri serta shalat ‘Idul Adha juga sudah dapat dilaksanakan di masjid ini. Karena itu masyarakat muslim Desa Jiko kini tidak perlu berjalan jauh untuk melaksanakan semua ibadah shalat itu. Mereka juga makin semangat untuk melaksanakan shalat lima waktu di masjid.

Selain kegiatan ibadah, Ustadz Mundzir juga melakukan perintisan kegiatan pendidikan di masjid ini. Setelah beberapa bulan bertugas di Desa Jiko, da’i asal Nanggroe Aceh Darussalam ini mendirikan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA).  TPA ini mulai dibuka pada hari ke-11 di bulan Ramadhan tahun 1432 H yang lalu. Pembukaan TPA itu berlangsung pada hari Kamis, tanggal 11 Agustus 2011. TPA ini awalnya memiliki 13 orang santri, yang terdiri dari sembilan orang santriwan dan empat orang santriwati. TPA ini diberi nama TPA Al-Badr yang artinya bulan purnama baru terbit. Dengan nama ini diharapkan dari TPA ini nantinya akan muncul generasi muslim penerang yang menyinari Desa Jiko.

 

Selain kegiatan pendidikan untuk anak-anak, Ustadz Mundzir juga melaksanakan kegiatan pendidikan untuk orang dewasa. Hampir setiap malam di masjid Ihya` Ulumuddin diadakan pengajian umum. Materi yang banyak ditekankan adalah materi aqidah, tujuannya sebagai penguatan keimanan masyarakat muslim di sana yang kebanyakan adalah muallaf. Selain juga untuk membentengi aqidah penduduk muslim di sana yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas beragama Kristen. Tanya jawab juga diadakan di tengah-tengah acara pengajian itu untuk memperdalam pemahaman para jamaah terhadap ajaran Islam.

Untuk mengelola semua kegiatan itu, Ustadz Mundzir menginisiasi terbentuknya badan pengurus masjid Ihya` Ulumuddin. Hal ini sengaja dilakukan Ustadz Mundzir supaya masyarakat Desa Jiko bisa mandiri dalam memakmurkan masjid. Selain itu juga agar mereka bisa mengadakan sendiri ibadah shalat jumat, shalat ‘Idul Fithri, shalat ‘Idul Adha serta kegiatan ibadah lainnya. Dengan demikian mereka tidak lagi bergantung kepada desa-desa lain dalam hal pelaksaan ibadah-ibadah tersebut. Sekarang, Alhamdulillah dengan sudah terbentuknya pengurus Masjid, masyarakat mulai belajar bagaimana mengurus masjid desa sendiri, bagaimana cara berorganisasi dan yang terpenting adalah bagaimana memakmurkan rumah Allah Azza Wa jalla.

Saat ‘Idul Adha tahun lalu, berkat bantuan hewan qurban dari LAZIS Dewan Da’wah, Ustadz Mundzir dan masyarakat muslim setempat dapat berkurban. Ini merupakan kurban pertama di Desa Jiko, “Sekalipun harga hewan qurban di daerah ini mahal, namun karena belum pernah ada  orang yang berqurban sebelumnya, maka kami tetap melaksanakan qurban di Desa Jiko,” terang Asrofi, Bidang Pemberdayaan dan Sinergi Program LAZIS Dewan Da’wah.

Sekalipun demikian, kegiatan da’wah di desa ini harus terus ditingkatkan. Penempatan da’i harus terus dipertahankan secara berkesinambungan agar penduduk Desa Jiko tetap ada yang membimbing secara intensif dalam masalah keagamaan. Bantuan-bantuan untuk menyempurnakan bangunan masjid dan melengkapi sarana dan pra sarana kegiatan ibadah dan pendidikan juga harus terus dilakukan. Sehingga mereka dapat menjadi kaum muslimin yang dapat memahami dan melaksanakan ajaran Islam dengan sempurna. Amin. *** Lazis Dewan Da’wah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *