MELURUSKAN TUJUAN
July 12, 2017
Kisah Perjalanan Da’wah Mahasiswa STID Mohammad Natsir Dipedalaman Sintang
July 14, 2017

Ada apa dengan Menangis ?

Menangis, sebuah aktifitas yang pertama kali kita lakukan ketika kita dilahirkan -seiring dengan berpindahnya kita dari alam kandungan ke alam dunia.  Kita sudah tidak ingat lagi ‘peristiwa penting’ itu. Sejak kecil tak terhitung sudah berapa kali kita manangis. Menangis merupakan ungkapan kesedihan dan bisa pula sebaliknya, merupakan ungkapan kebahagiaan. Menangis adalah naluri, fitrah manusia yang sekaligus nikmat dari Alloh SWT. Ada orang yang gampang sekali menangis.

Perasaannya sangat sensitif dengan keadaan sekitarnya. Menangis ketika harus berpisah dengan orang yang dicintai, menangis ketika mendengar cerita atau berita yang menyedihkan, menagis tatkala melihat kesengsaraan hidup orang lain. Sebaliknya, Ada orang  yang air matanya susah keluar dari kelopak matanya. Kalaupun harus bersedih karena ditinggal seorang yang ia cintai, tapi ia tidak sampai menangis. Bukan karena tidak merasa kehilangan, tetapi karena ia memang susah menangis. Hatinya tidak sepeka golongan sebelumnya. Adapula yang tidak bisa menangis karena memang hatinya keras membaja walaupun ditimpa musibah apapun.

Tangisan iman tidak sama dengan tangisan cengeng. Tangis iman itu terjadi ketika seorang hamba sangat merindukan pertemuan dengan Alloh SWT,  tangisan pada saat kehilangan kesempatan menjalankan perintah agama. Sedangkan tangisan cengeng terjadi ketika seseorang kehilangan harta yang dicintainya.

Ketika persiapan perang Tabuk tengah digelar, ada tangisan istimewa yang tidak lazim dari kebiasaan manusia pada umumnya. Perang menghadapi tentara kuat Romawi yang berlangsung saat musim panas ini memaksa setiap sahabat yang ikut untuk memiliki kendaraan masing-masing. Sebab, jarak yang. begitu jauh, untuk berjalan kaki rasanya tak mungkin.. Di antara kaum miskin yang tak punya tunggangan itulah muncul tangisan sesal.

Segolongan sahabat Rasul (menurut riwayat lain 7 golongan) pimpinan Abdullah Al-muzani terpaksa kembali karena Rasulullah menyatakan tidak berhasil membantu memberi mereka tunggangan.

Alloh telah mengabadikan tangisan istimewa itu dalam Al Quran Surah at-Taubah: 92:

“Dan tidak ada dosa atas orang-orang yang datang kepadamu supaya kamu beri kendaraan lalu kamu berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kamu.”

Mereka kembali sedang mata mereka melelehkan air mata karena kesedihan, karena mereka tidak memperoleh apa yang mereka nafkahkan.’ (QS at-Taubah: 92) (riwayat selengkapnya silahkan merujuk pada Tafsir Ibnu Katsir II/402).

Tangis mereka ini tentu bukan sembarang tangis,ini tangisan langka. Di tengah banyaknya orang minta izin tidak ikut berperang dengan berbagai alasan (QS At-taubah: 81), justru mereka bersedih karena tidak bisa bergabung dengan pasukan Islam. Di saat banyak orang takut mati (QS. Ali Imran: 167-168), mereka malah menyesal kehilangan kesempatan untuk mati. Bagi mereka, perang memang bukan momok yang menyeramkan, justru inilah cita-cita tertinggi mereka, syahid di jalan-Nya.

Selain tangis karena rindu, ada juga tangis karena khusyu’nya hati dalam dzikir kepada Alloh. Tangis seperti ini banyak dibahas dalam al-Qur’an maupun sunnah. Tangisan ini tentu saja tidak bisa direkayasa, karena lahir dari pikiran yang bersih dan hati yang bening. Kedudukannya sama dengan tangis iman di atas. Alloh menyebut mereka sebagai orang yang senantiasa bersujud dan menangis. Alloh berfirman, ‘Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Alloh, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang yang Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Alloh Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dan menangis.’ (QS Maryam: 58).

Ada pula tangis bahagia. Tangis jenis ini lahir di saat suasana bahagia yang diselimuti rasa haru, ketika berjumpa dengan orang-orang tercinta, berkumpul bersama keluarga dalam suasana hari raya, ketika mendapatkan nikmat besar, kemenangan dalam suatu perjuangan (baca: pertandingan), dan lain sebagainya.

Ada juga tangis ikut-ikutan, milik orang yang hanya bisa menangis ketika orang-orang di sekelilingnya menangis. Ia tidak bisa menangis ketika sendirian, melainkan ia bisa menangis kalau bersamaan dengan suatu jamaah, di dalam sholat, istighatsah, muhasabah, mendengarkan bersama tilawah, dsb. Terkadang ia tidak tahu maksud dan arti bacaan sang imam, ia hanya terharu mendengar ‘nada tinggi’ sang imam dan tangisan jamaah yang lain.

Pada dasarnya ia menangisi (baca: menangis karena) tetangganya. Yang terakhir, ada tangisan palsu. Ia mencucurkan air matanya bukan karena Alloh melainkan karena manusia, agar mereka menyangka bahwa ia adalah orang yang khusyu’ dalam sholat, tilawah dan do’anya, orang yang mudah tergugah dengan ayat-ayat-Nya. Sungguh rugi orang yang demikian, menyangka tangisannya berbuah surga, malah sebaliknya mendapatkan murka. Para ustadz, huffadz, qari’, imam sholat dan pemimpin muhasabah adalah kelompok yang paling rawan dihinggapi penyakit ini jika tidak berhati-hati.

Setiap malam Jum’at kita sering menyaksikan diri dan sahabat-sahabat sekeliling kita menangis ketika dilangsungkan tadabbur ayat, muhasabah atau qiyamul-lail. Hampir semua yang hadir menangis baik dengan hanya sedikit mengeluarkan air mata, tersedu-sedu hingga isakan yang teramat keras. Maka, sebuah pertanyaan penting yang harus kita jawab dengan jujur, termasuk jenis yang manakah tangisan kita itu?

Wallohu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *