Isi Lengkap Fatwa MUI Soal Hukum dan Pedoman Bermedia Sosial
June 6, 2017
MENINGKATKAN KUALITAS DIRI MELALUI SHALAT
July 14, 2017

Hukum Menukar Uang Lebaran

Majelis Fatwa dan Pusat Kajian
Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

=========================

– Seri 02 –

Tema: Hukum Menukar Uang Lebaran

Pertanyaan:

Bagaimana hukum menukar uang lama dengan uang baru, yg selalu marak ketika menjelang lebaran tiba?
Apakah hal tersebut termasuk kategori Riba?

Jawaban:

Hukum menukar uang dengan uang dirinci sebagai berikut:

1. Jika satu jenis mata uang (emas dengan emas, rupiah dengan rupiah, dolar dengan dolar) maka jumlah nya harus sama dan tidak boleh berbeda, baik antara yang bagus dan yang jelek, antara yang baru dengan yang lama, antara uang besar dengan uang receh tetap disyaratkan sama nominal nya.

2. Jika mata uang dari jenis yang berbeda (rupiah dengan dolar, euro dengan real, dolar dengan yen) boleh berbeda nominal nya sesuai dengan harga yang berlaku.

Kesimpulan :

Menukar uang lama dengan uang baru dengan nominal yang berbeda haram karena termasuk riba. Berdasar pada hadist;

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran) harus sama dan dibayar tunai. Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan dan orang yang memberinya sama-sama berdosa.” (HR. Muslim no. 1584)

Adapun yang menyatakan kebolehannya dengan alasan bahwa uang lebih nya adalah uang jasa, tidaklah bisa diterima, karena jasa tidak boleh dibayar dengan barang sejenis yang termasuk dalam ribawiyyat (barang-barang riba) sebagaimana hadits diatas.

Wallâhu A’lam

Penjawab : Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

Jakarta, 19 Ramadhan 1438 H / 14 Juni 2017 M

1 Comment

  1. Terimakasih atas informasinya. Sunggu menambah wawasan sy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *